1. Fenomena Overthinking di Kalangan Remaja: Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental
Di era digital yang serba cepat ini, fenomena overthinking atau berpikir berlebihan menjadi salah satu persoalan serius yang banyak dialami oleh remaja. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses terhadap informasi di media sosial ternyata membawa dampak ganda. Di satu sisi, remaja dapat dengan mudah mendapatkan ilmu, hiburan, dan koneksi sosial baru. Namun di sisi lain, arus informasi yang tidak terbatas membuat sebagian remaja merasa kewalahan, membandingkan diri dengan orang lain, hingga memicu rasa cemas dan tidak percaya diri. Para ahli psikologi menyebutkan bahwa media sosial kini menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya gejala kecemasan dan stres di kalangan remaja. Aktivitas seperti melihat pencapaian orang lain, unggahan gaya hidup mewah, atau standar kecantikan yang tidak realistis sering kali menimbulkan tekanan sosial yang tidak disadari. Banyak remaja yang akhirnya terjebak dalam pola berpikir negatif — merasa hidupnya tidak cukup baik, takut gagal, bahkan sulit tidur karena terlalu banyak memikirkan hal-hal di luar kendali mereka.
Fenomena ini juga diperkuat dengan berkurangnya komunikasi tatap muka di kehidupan nyata. Ketergantungan pada media sosial membuat remaja lebih sering menilai dirinya berdasarkan komentar, jumlah “like”, atau pengikut di dunia maya. Akibatnya, muncul perasaan cemas berlebih ketika unggahan tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Kondisi ini menjadi lingkaran yang sulit diputus, karena semakin merasa tidak cukup, semakin sering pula mereka mencari validasi melalui media sosial — dan akhirnya semakin memperburuk overthinking. Beberapa sekolah dan lembaga pendidikan kini mulai menaruh perhatian pada isu ini. Program literasi digital dan pendidikan kesehatan mental mulai digalakkan untuk membantu remaja memahami pentingnya keseimbangan antara dunia maya dan kehidupan nyata. Guru dan konselor diharapkan berperan aktif dalam mendampingi siswa agar dapat mengelola pikiran dan emosi dengan lebih sehat. Selain itu, peran orang tua juga sangat dibutuhkan dalam memberikan dukungan emosional serta menciptakan lingkungan rumah yang nyaman untuk berdialog.
Fenomena
overthinking di kalangan remaja bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Jika
dibiarkan, hal ini dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan mental dan
produktivitas generasi muda. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah, keluarga,
dan masyarakat menjadi kunci penting untuk menumbuhkan kesadaran bersama.
Remaja perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, mengendalikan pikiran
negatif, dan membangun rasa percaya diri yang tidak bergantung pada media
sosial.