9. Eksistensi di Dunia Maya: Tekanan Sosial yang Dialami Remaja dalam Mengejar Validasi Online
Media sosial kini menjadi panggung utama bagi remaja untuk menunjukkan eksistensi diri. Mereka berlomba-lomba menciptakan citra menarik melalui unggahan foto, video, atau cerita kehidupan sehari-hari. Namun di balik tampilan yang tampak menyenangkan, ada tekanan besar yang jarang disadari: tekanan sosial untuk mendapat validasi online. Jumlah “like”, komentar, dan pengikut sering kali dijadikan ukuran harga diri dan penerimaan sosial. Fenomena ini membuat banyak remaja terjebak dalam siklus pencitraan yang melelahkan. Mereka berusaha tampil sempurna di dunia maya, bahkan jika harus mengorbankan keaslian diri. Ketika unggahan tidak mendapatkan respons sesuai harapan, perasaan tidak berharga dan rendah diri muncul. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memicu stres, kecemasan, dan krisis identitas, terutama bagi remaja yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.
Para ahli psikologi menilai bahwa budaya validasi online telah menciptakan generasi yang sangat bergantung pada opini orang lain. Padahal, penilaian di dunia maya sering kali bersifat semu dan tidak menggambarkan realitas sesungguhnya. Sekolah dan orang tua memiliki peran penting dalam membantu remaja membangun konsep diri yang sehat, yakni dengan menanamkan nilai-nilai keaslian, rasa syukur, dan penerimaan diri. Upaya membangun kesadaran ini dapat dilakukan melalui program konseling, kampanye anti-body shaming, serta edukasi mengenai kesehatan mental di lingkungan sekolah. Sementara itu, orang tua perlu mendampingi anak menggunakan media sosial secara bijak, bukan dengan melarang, tetapi dengan mengajarkan makna tanggung jawab dan empati di dunia digital. Dengan dukungan yang tepat, remaja dapat belajar mengekspresikan diri tanpa harus mengejar pengakuan dari orang lain.