Artikel: Penguatan Peran Guru dalam Mendorong Literasi dan Numerasi Peserta Didik
Penguatan peran guru dalam meningkatkan literasi dan
numerasi peserta didik merupakan sebuah urgensi dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan nasional. Literasi dan numerasi tidak hanya menjadi kompetensi
dasar, tetapi juga fondasi penting bagi peserta didik dalam mengembangkan
kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, serta beradaptasi dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam konteks global yang penuh
perubahan dan kompetisi, kemampuan literasi dan numerasi dianggap sebagai
indikator utama yang menentukan kualitas pendidikan suatu bangsa. Oleh sebab
itu, guru sebagai ujung tombak pendidikan memiliki tanggung jawab strategis
dalam menginisiasi, mengembangkan, dan menguatkan proses pembelajaran yang
berorientasi pada peningkatan kemampuan tersebut.
Secara konseptual, literasi mencakup lebih dari
sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan kemampuan memahami,
menganalisis, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif dalam
berbagai konteks. Begitu pula numerasi bukan hanya kemampuan berhitung, tetapi
mencakup kemampuan menggunakan konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari,
menafsirkan data, serta membuat keputusan berdasarkan pemahaman kuantitatif.
Dengan demikian, peran guru tidak sebatas mengajarkan keterampilan teknis membaca
atau menghitung, melainkan membantu peserta didik mengembangkan kompetensi
literasi dan numerasi secara holistik.
Peran guru dalam penguatan literasi dapat diwujudkan
melalui penciptaan lingkungan belajar yang literat, pengembangan budaya
membaca, dan penggunaan strategi pembelajaran berbasis teks yang melibatkan
aktivitas berpikir tingkat tinggi. Guru berperan sebagai fasilitator yang
menyediakan bahan bacaan beragam, memandu peserta didik untuk membaca kritis,
serta membiasakan mereka untuk menyampaikan kembali gagasan yang telah
diinterpretasikan. Strategi seperti membaca terpandu, diskusi literasi,
analisis teks, dan penulisan reflektif dapat membantu mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam memahami dan mengolah informasi dengan lebih mendalam.
Kemampuan literasi yang kuat memungkinkan peserta didik memahami materi
pelajaran secara lebih komprehensif dan aplikatif.
Dalam aspek numerasi, guru memiliki tanggung jawab
untuk menciptakan pembelajaran matematika yang menarik, bermakna, dan
kontekstual. Guru perlu menghadirkan berbagai metode yang membantu peserta
didik memahami konsep abstrak secara konkret, seperti penggunaan alat peraga,
permainan numerasi, eksperimen sederhana, serta pemecahan masalah berbasis
kehidupan nyata. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik melihat relevansi
matematika dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka lebih termotivasi untuk
menguasai keterampilan numerik. Guru juga perlu membangun suasana kelas yang
positif agar peserta didik tidak merasa tertekan atau cemas ketika belajar
matematika, karena kecemasan terhadap matematika dapat menghambat pengembangan
numerasi secara signifikan.
Optimalisasi peran guru dalam mendorong literasi dan
numerasi juga sangat dipengaruhi oleh kapasitas profesional guru itu sendiri.
Guru perlu memiliki kompetensi pedagogis, kepribadian yang baik, kepekaan
sosial, dan penguasaan profesional dalam bidang studi untuk dapat melaksanakan
pembelajaran secara efektif. Pengembangan profesional berkelanjutan melalui
program pelatihan, workshop, komunitas belajar (PLC), serta refleksi pedagogis
menjadi kunci peningkatan kapasitas tersebut. Guru dituntut untuk selalu mengikuti
perkembangan kurikulum, media pembelajaran digital, serta strategi pedagogis
yang inovatif guna menghadapi kebutuhan peserta didik yang semakin kompleks.
Selain kompetensi guru, keberhasilan penguatan
literasi dan numerasi juga memerlukan ekosistem pendidikan yang mendukung.
Sekolah perlu menyediakan fasilitas seperti perpustakaan yang layak, pojok baca
di kelas, media numerasi, akses terhadap teknologi, serta lingkungan belajar
yang mendorong kolaborasi. Peran kepala sekolah menjadi penting dalam
memastikan bahwa budaya literasi dan numerasi terintegrasi dalam kebijakan
sekolah. Orang tua juga memiliki kontribusi signifikan dalam membangun
kebiasaan membaca dan berhitung di rumah sehingga pembelajaran tidak hanya
berlangsung di sekolah, tetapi juga berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari
peserta didik.
Kolaborasi yang kuat antara guru, sekolah, orang tua,
dan masyarakat akan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan literasi
dan numerasi secara optimal. Melalui penguatan peran guru dan sinergi antar
pemangku kepentingan pendidikan, diharapkan peserta didik mampu mengembangkan
kemampuan dasar yang tidak hanya bermanfaat dalam proses pembelajaran, tetapi
juga menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Dengan demikian, penguatan literasi dan numerasi bukan sekadar agenda
kurikuler, tetapi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia dan memperkuat daya saing bangsa.