Budaya Pop Viral Indonesia: Fenomena “Aura Farming” yang Mendunia
Dunia maya memang tidak pernah kehabisan kejutan. Baru-baru ini, istilah “aura farming” menjadi viral dan bahkan menarik perhatian dunia internasional. Fenomena ini berawal dari video seorang anak Indonesia bernama Rayyan Arkan Dikha, yang menampilkan gaya dan ekspresi unik hingga akhirnya dijadikan tren global oleh netizen.
Istilah aura farming sendiri sebenarnya muncul dari guyonan netizen, yang memiliki “aura positif” dengan cara seseorang menunjukkan kepercayaan diri di depan kamera. Namun lama-kelamaan, istilah ini berkembang menjadi simbol budaya pop baru: representasi gaya, ekspresi diri, dan identitas digital generasi muda Indonesia.
Bagi anak muda, viral bukan lagi sekadar soal terkenal—tapi soal getaran. Mereka ingin menunjukkan keunikan dan energi diri melalui konten, bukan hanya mengikuti tren. “Aura farming” akhirnya menjadi semacam bahasa baru di media sosial: tentang bagaimana seseorang bisa memancarkan aura positif, menarik perhatian, dan tetap autentik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya digital Indonesia kini memiliki kekuatan global. Konten lokal bisa menembus batas negara dan menjadi bagian dari percakapan dunia. Dengan kreativitas dan humor khas netizen Indonesia, sesuatu yang sederhana bisa berubah menjadi ikon budaya baru.
Lebih dari sekadar tren, “aura farming” mencerminkan cara anak muda membangun identitas di dunia maya—percaya diri, berekspresi, dan tidak takut untuk tampil berbeda. Dunia mungkin tertawa, tapi dari sanalah lahir kekuatan besar: kreativitas tanpa batas dari generasi muda Indonesia.