Dampak Waktu Layar Berlebihan pada Perkembangan Anak
Waktu layar (screen time) yang berlebihan bagi
anak-anak semakin menjadi sorotan para pakar. Studi internasional menunjukkan
bahwa anak usia 0-4 tahun kini menghabiskan lebih banyak waktu menggunakan
perangkat digital dibandingkan dekade sebelumnya.
Dampak dari penggunaan yang panjang mencakup gangguan tidur, kurangnya
aktivitas fisik, gangguan pada interaksi sosial, hingga potensi keterlambatan
bicara pada anak usia dini. Untuk anak usia sekolah dasar, terlalu banyak
waktu di depan layar bisa menggantikan waktu bermain fisik, seni, dan
sosialisasi—yang semuanya penting untuk perkembangan keseimbangan.
Di kelas, guru Seni Budaya dapat menggabungkan tema ini ke dalam pembelajaran:
misalnya meminta siswa menuliskan jadwal harian mereka—berapa waktu menggunakan
gadget, bermain, belajar seni—lalu berdiskusi tentang keseimbangan. Aktivitas
refleksi ini membantu anak mencerminkan kembali kebiasaan mereka.
Orang tua juga perlu menetapkan batasan waktu layar. Contoh: “Gadget boleh
digunakan setelah tugas selesai dan selama maksimum 30-60 menit,” atau “Setelah
6 sore tidak boleh gadget untuk keluarga.” Dengan cara ini, gadget tetap bisa
digunakan sebagai sarana belajar atau kreativitas, bukan pengisi waktu kosong
yang pasif.
Akhirnya, keseimbangan adalah kunci. Jika gadget membantu proses belajar, seni,
atau berkolaborasi maka itu sebuah keuntungan. Tetapi jika malah menjadi
pengganti aktivitas yang seharusnya, maka guru dan orang tua harus mengambil
langkah korektif agar perkembangan anak tetap optimal.