Dari Fandom ke Kelas: Komunitas K-Pop Bertransformasi Menjadi Ruang Belajar Nonformal
Selama
ini, fandom K-Pop identik dengan aktivitas streaming lagu, voting idol, beli
album, dan ikut war di media sosial. Namun, di berbagai kota, komunitas
penggemar K-Pop mulai bergerak ke arah yang lebih edukatif. Fandom tidak lagi
hanya menjadi ruang untuk fangirling atau fanboying, tetapi juga berkembang
menjadi wadah belajar nonformal yang kaya akan potensi pengembangan diri.
Banyak
komunitas K-Pop yang mulai rutin mengadakan gathering dengan konsep lebih
terstruktur. Misalnya, sesi latihan dance cover, kelas kecil bahasa Korea
dasar, workshop desain konten, hingga pelatihan manajemen event untuk acara fan
gathering. Kegiatan-kegiatan ini sebenarnya sudah masuk dalam ranah Pendidikan
Luar Sekolah, karena mengandung unsur pembelajaran, pelatihan, dan pengembangan
keterampilan di luar jalur formal.
Dari
sisi keterampilan, anggota fandom tanpa sadar mengasah banyak soft skill
penting. Pengurus komunitas belajar menyusun proposal acara, mengelola dana,
bernegosiasi dengan vendor, hingga mengatur rundown event. Di sisi lain,
anggota yang aktif di media sosial fandom belajar tentang manajemen konten,
desain grafis, pengeditan video, dan strategi interaksi digital. Semua itu
sangat relevan dengan kebutuhan dunia kerja kreatif saat ini.
Fandom
juga menjadi ruang aman bagi remaja dan mahasiswa untuk melatih kepercayaan
diri. Saat tampil di panggung kecil dalam acara komunitas, mereka belajar
mengatasi rasa gugup. Ketika berdiskusi tentang idol atau karya musik, mereka
mengasah kemampuan berpendapat dan berkomunikasi. Proses ini sejalan dengan
tujuan Pendidikan Luar Sekolah yang mendorong pemberdayaan, partisipasi aktif,
dan pembentukan karakter melalui kegiatan berbasis minat.
Lembaga
Pendidikan Luar Sekolah seperti PKBM, sanggar seni, atau Lembaga Kursus dan
Pelatihan sebenarnya dapat menjalin kerja sama dengan fandom K-Pop untuk
mengemas program yang lebih rapi dan terarah. Misalnya, menjadikan latihan
dance cover sebagai kelas seni pertunjukan, mengembangkan kelas editing video
berbasis fancam, atau membuka pelatihan manajemen event dengan studi kasus
acara fanmeeting.
Transformasi
fandom menjadi ruang belajar nonformal menunjukkan bahwa pendidikan tidak
selalu harus terjadi di ruang kelas formal. Di tangan komunitas yang kreatif,
budaya populer seperti K-Pop justru bisa menjadi pintu masuk untuk membangun
generasi muda yang terampil, percaya diri, dan melek digital.