Dari Scroll ke Goal: Saat Anak Muda Belajar Mengubah Layar Jadi Penghasilan
Buka HP sebentar, scroll TikTok lima menit, eh tahu-tahu sudah dua jam lewat. Tapi siapa sangka, dari aktivitas sederhana di layar ponsel itu, banyak anak muda sekarang justru berhasil membangun karier dan penghasilan sendiri. Dunia digital yang dulunya dianggap tempat hiburan, kini berubah jadi lahan produktif bagi generasi kreatif.
Fenomena ini tampak jelas di kalangan mahasiswa dan pelajar. Banyak yang mulai jadi content creator, freelancer digital, sampai online seller hanya dengan bermodal smartphone dan ide segar. “Awalnya cuma iseng bikin konten lucu, eh sekarang malah bisa bayar UKT dari endorse,” kata Naira, mahasiswa komunikasi yang kini punya 50 ribu pengikut di media sosial.
Menurut data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sektor ekonomi digital Indonesia terus tumbuh pesat, dan anak muda jadi penggerak utamanya. Dunia digital membuka kesempatan bagi siapa pun untuk belajar, berkarya, dan menghasilkan, tanpa harus menunggu “kerja kantoran”.
Namun, di balik semua peluang, tetap ada tantangan: konsistensi, manajemen waktu, dan tekanan sosial di dunia maya. Banyak kreator muda yang akhirnya kelelahan karena terjebak di antara tuntutan algoritma dan ekspektasi audiens. “Jangan sampai lupa hidup di dunia nyata,” pesan seorang mentor digital. “Bikin konten itu bagus, tapi menjaga keseimbangan hidup jauh lebih penting.”
Fenomena “dari scroll ke goal” ini menunjukkan perubahan besar dalam cara anak muda memandang dunia kerja. Bahwa kesuksesan kini tidak hanya diukur dari gelar, tapi juga dari keberanian untuk mencoba hal baru, memanfaatkan teknologi, dan menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan.
Dari sekadar scrolling, kini banyak yang sudah menemukan calling—panggilan hidup mereka di dunia digital.