Dari 'Training' ke 'Learning Experience': Evolusi Pelatihan Karyawan
Dunia
pengembangan sumber daya manusia (SDM) sedang mengalami transformasi
fundamental. Model pelatihan karyawan (employee training) yang kaku,
satu arah, dan seringkali membosankan kini telah usang. Perusahaan modern tidak
lagi hanya memberikan 'training', tetapi berfokus pada penciptaan 'Learning
Experience' (LX) atau pengalaman belajar yang holistik dan personal.
Evolusi
ini didorong oleh laju perubahan teknologi yang sangat cepat, memicu kebutuhan
konstan akan upskilling (peningkatan keterampilan) dan reskilling
(pembelajaran ulang keterampilan). Pelatihan tradisional, yang seringkali
berbentuk seminar berhari-hari di kelas atau modul e-learning yang
panjang, dianggap tidak lagi memadai untuk angkatan kerja yang dinamis dan digital-native.
"Dulu,
'training' adalah sesuatu yang dipaksakan oleh perusahaan kepada karyawan.
Sifatnya top-down dan satu ukuran untuk semua," jelas Dr. Rian
Aditama, seorang pakar Learning & Development (L&D).
"Sekarang, kita berbicara tentang 'Learning Experience'. Ini adalah
pergeseran fokus dari apa yang harus dipelajari menjadi bagaimana
karyawan belajar secara efektif dan kapan mereka membutuhkannya."
Learning
Experience (LX) berpusat pada karyawan, bukan pada kalender HRD. Ini
mengintegrasikan pembelajaran ke dalam alur kerja sehari-hari. Alih-alih modul
yang kaku, LX menggabungkan berbagai format:
- Microlearning: Konten pembelajaran singkat
(video 3-5 menit) yang bisa diakses kapan saja.
- Social Learning: Belajar dari rekan kerja
melalui platform kolaboratif atau program mentoring.
- Personalization: Menggunakan AI untuk
merekomendasikan konten pembelajaran yang relevan dengan peran dan minat
karyawan, mirip seperti Netflix merekomendasikan film.
- On-Demand: Pembelajaran tersedia saat
dibutuhkan (just-in-time), bukan dijadwalkan berbulan-bulan
sebelumnya.
Pergeseran
ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi baru dari angkatan kerja, terutama
Generasi Z, yang terbiasa dengan akses instan ke informasi dan konten yang
dipersonalisasi. Mereka menuntut pembelajaran yang relevan, cepat, dan tersedia
di perangkat seluler.
Manfaat
dari pendekatan LX ini signifikan. Perusahaan yang mengadopsinya melaporkan
tingkat keterlibatan karyawan (employee engagement) yang lebih tinggi,
karena karyawan merasa memiliki kendali atas pengembangan diri mereka. Selain
itu, retensi pengetahuan juga meningkat drastis dibandingkan metode ceramah
tradisional.
Pada
akhirnya, evolusi dari 'training' ke 'learning experience' adalah keharusan
strategis. Ini tentang membangun budaya belajar berkelanjutan (continuous
learning culture), di mana karyawan didorong untuk belajar setiap hari.
Perusahaan yang berinvestasi dalam LX akan memenangkan persaingan talenta dan
membangun tenaga kerja yang lebih gesit.