Digital Learning Community: Gerakan Belajar Masyarakat di Era Media Sosial
Di era digital 5.0, media sosial tidak hanya menjadi ruang interaksi
sosial, tetapi juga berkembang menjadi wahana pembelajaran baru. Fenomena ini
melahirkan Digital Learning Community atau komunitas belajar digital,
yaitu kelompok masyarakat yang memanfaatkan platform daring seperti YouTube,
TikTok Edu, Instagram, atau Telegram untuk berbagi ilmu, berdiskusi, dan saling
menginspirasi.
Gerakan ini mencerminkan semangat belajar sepanjang hayat (lifelong
learning) yang menjadi fokus utama Pendidikan Luar Sekolah (PLS), di mana
masyarakat tidak lagi bergantung pada lembaga formal untuk memperoleh
pengetahuan dan keterampilan.
Transformasi
Belajar di Era Media Sosial
Dulu,
proses belajar cenderung terikat pada ruang dan waktu—sekolah, jadwal, dan
kurikulum tertentu. Kini, masyarakat dapat belajar kapan saja dan di mana saja.
Media sosial menghadirkan beragam sumber belajar terbuka (open learning
resources), mulai dari video tutorial, diskusi daring, hingga kelas webinar
gratis.
Misalnya, munculnya kanal edukatif seperti “Kelas Inspirasi”, “Belajar
Bareng PLS”, atau “Skill Academy” menunjukkan bahwa masyarakat mulai
membentuk ekosistem belajar digital yang bersifat partisipatif dan kolaboratif.
Gerakan
ini juga memunculkan paradigma baru bahwa belajar bukan hanya tanggung jawab
lembaga pendidikan formal, melainkan menjadi budaya sosial yang tumbuh dari
kesadaran individu dan komunitas.
Peran
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) dalam Gerakan Belajar Digital
Pendidikan
Luar Sekolah memiliki peran strategis dalam memperkuat Digital Learning
Community sebagai bagian dari upaya peningkatan partisipasi belajar
masyarakat.
Berikut beberapa bentuk kontribusi nyata PLS:
1. Fasilitator
Literasi Digital:
PLS dapat menjadi penggerak pelatihan literasi digital agar masyarakat mampu
menggunakan media sosial secara produktif, bukan sekadar konsumtif.
2. Pengembang
Komunitas Belajar:
Tutor dan pendidik nonformal dapat memfasilitasi terbentuknya komunitas belajar
daring sesuai minat—misalnya, komunitas kewirausahaan digital, parenting, atau
keterampilan kerja.
3. Jembatan
Kolaborasi antara Dunia Nyata dan Dunia Maya:
PLS bisa mengintegrasikan kegiatan belajar tatap muka dengan platform digital
seperti WhatsApp Group, Google Classroom, atau Facebook Group untuk memperluas
jangkauan pembelajaran.
4. Penggerak
Inovasi Sosial:
Dengan pendekatan berbasis masyarakat, PLS berperan mendorong warga agar berani
menciptakan konten edukatif dan menjadi creator pengetahuan, bukan
sekadar consumer.
Tantangan
dan Peluang
Walau
potensi Digital Learning Community sangat besar, terdapat beberapa
tantangan yang perlu diperhatikan, antara lain:
·
Kesenjangan digital
di daerah pedesaan,
·
Rendahnya literasi digital kritis,
·
dan kurangnya pendampingan dari tenaga
pendidik nonformal.
Namun, tantangan tersebut justru membuka peluang bagi lulusan dan praktisi PLS untuk berinovasi dalam desain program belajar berbasis teknologi, membangun jaringan antar-komunitas, serta mempromosikan budaya belajar yang inklusif dan berkelanjutan.
Digital Learning
Community mencerminkan transformasi nyata dari paradigma belajar tradisional
menuju pembelajaran yang terbuka, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan
teknologi.
Pendidikan Luar Sekolah memiliki peran penting dalam memperkuat gerakan ini
melalui pengembangan literasi digital, pendampingan komunitas, dan pemberdayaan
masyarakat agar mampu belajar dan berbagi di ruang digital.
Dengan demikian, media sosial tidak lagi hanya menjadi tempat bersosialisasi,
tetapi juga menjadi ruang belajar tanpa batas untuk masyarakat Indonesia yang
gemar belajar sepanjang hayat