Fanbase K-Pop Berbasis Komunitas: Potensi Menjadi Laboratorium Sosial bagi Mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah
Komunitas
fanbase K-Pop sudah menjadi fenomena sosial tersendiri di berbagai kota di
Indonesia. Mereka rutin mengadakan gathering, project ulang tahun idol, acara
nonton bareng, hingga penggalangan dana untuk kegiatan sosial. Di balik
aktivitas yang tampak “sekadar hobi”, fanbase K-Pop sebenarnya menyimpan
potensi besar sebagai laboratorium sosial hidup, terutama bagi mahasiswa
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) yang belajar tentang komunitas, partisipasi, dan
pemberdayaan.
Fanbase
K-Pop biasanya memiliki struktur organisasi yang cukup rapi. Ada admin,
koordinator acara, tim media, hingga bendahara. Sistem ini mencerminkan
dinamika organisasi nonformal yang sangat relevan untuk diamati dan dipelajari.
Mahasiswa PLS bisa menjadikan fanbase sebagai objek observasi untuk memahami
bagaimana komunitas terbentuk, bagaimana keputusan diambil, dan bagaimana
anggota berpartisipasi secara sukarela.
Dari
sudut pandang PLS, fanbase bisa diposisikan sebagai ruang belajar nonformal
yang berjalan alami. Di dalamnya, anggota mengembangkan banyak soft skill tanpa
merasa sedang “sekolah”. Misalnya, saat mengurus event ulang tahun idol, mereka
belajar menyusun proposal, mengelola anggaran, merancang konsep acara, dan
membagi tugas. Ketika mengelola akun media sosial fanbase, mereka mengasah
kemampuan komunikasi, desain konten, dan literasi digital.
Bagi
mahasiswa PLS, keterlibatan atau penelitian kecil-kecilan di fanbase bisa
menjadi pengalaman berharga. Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana
minat yang sama mampu menyatukan orang dari latar belakang berbeda, bagaimana
konflik internal dikelola, dan bagaimana solidaritas dibangun. Semua ini
sejalan dengan kajian tentang pendidikan berbasis komunitas, dinamika kelompok,
dan pembelajaran sepanjang hayat.
Fanbase
K-Pop juga sering terlibat dalam kegiatan positif seperti donasi ke panti
asuhan, bantuan bencana, atau kampanye sosial atas nama idol favorit. Aktivitas
ini menunjukkan bahwa komunitas penggemar bisa menjadi kekuatan sosial yang
nyata, bukan hanya “penonton konser online”. Di titik ini, mahasiswa PLS dapat
belajar bagaimana memanfaatkan budaya populer sebagai pintu masuk untuk
menggerakkan aksi sosial dan kepedulian masyarakat.
Dengan
pendekatan yang tepat, fanbase K-Pop dapat dilihat bukan lagi sekadar kumpulan
penggemar, tetapi sebagai laboratorium sosial yang hidup dan dinamis. Bagi
mahasiswa Pendidikan Luar Sekolah, komunitas ini adalah lahan praktik nyata
untuk memahami bagaimana pendidikan, pembelajaran, dan pemberdayaan bisa
berlangsung di luar ruang kelas formal.