Fenomena Bullying di Kampus: Antara Candaan dan Kekerasan Terselubung
Bullying di lingkungan kampus masih menjadi persoalan serius yang kerap luput dari perhatian. Banyak kasus terjadi tanpa disadari karena dikemas dalam bentuk “candaan” atau tradisi senioritas yang dianggap lumrah. Namun di balik tawa dan guyonan, ada luka batin yang tidak terlihat dan dapat memengaruhi mental serta prestasi korban.
Beberapa mahasiswa mengaku sering mengalami perlakuan tidak menyenangkan, seperti ejekan, pengucilan, atau tekanan dari senior dalam kegiatan organisasi maupun perkuliahan. Ironisnya, perilaku ini sering dianggap bagian dari proses adaptasi atau bentuk kedekatan antarmahasiswa. Padahal, tanpa disadari, hal tersebut sudah termasuk dalam kategori perundungan psikologis.
Pihak kampus di berbagai daerah kini mulai mengambil langkah untuk menekan praktik bullying, salah satunya dengan menyediakan layanan konseling, membuka kanal pelaporan anonim, serta menyusun kebijakan anti-perundungan. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh mahasiswa.
Psikolog pendidikan menilai bahwa fenomena bullying di kampus berakar pada budaya senioritas dan kurangnya empati sosial. Menurutnya, candaan yang melewati batas dapat berdampak panjang pada rasa percaya diri dan kesehatan mental korban. Karena itu, kesadaran seluruh civitas akademika menjadi kunci utama dalam menciptakan perubahan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kampus bukan hanya tempat menuntut ilmu, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan kemanusiaan. Menghapus bullying berarti membangun lingkungan pendidikan yang benar-benar mendukung pertumbuhan, bukan menindasnya secara terselubung.