Fenomena “Healing” di Kalangan Anak Muda: Antara Self-Care dan Gaya Hidup Digital
Akhir pekan di kafe estetik, jalan ke pantai, atau sekadar rebahan sambil scroll TikTok — semua sekarang disebut “healing”. Tapi, apakah benar semua itu bentuk penyembuhan? Atau cuma tren baru anak muda di dunia digital?
Fenomena “healing” kini jadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup generasi muda. Istilah yang dulu hanya dipakai dalam konteks terapi psikologis, kini menjelma jadi hashtag viral di media sosial. Banyak yang mengaitkan “healing” dengan cara melepas stres, mencari ketenangan, atau sekadar melarikan diri dari rutinitas.
Menurut psikolog muda Dr. Laila Pratiwi, konsep healing sebenarnya positif, asal tidak disalahartikan. “Healing itu bukan berarti kabur dari masalah, tapi memberi waktu bagi diri sendiri untuk memulihkan energi,” jelasnya. Namun di media sosial, maknanya sering kabur antara kebutuhan emosional dan gaya hidup konsumtif.
Platform seperti TikTok dan Instagram dipenuhi konten bertema healing — mulai dari vlog ke gunung, solo trip, hingga tips journaling. Tapi sebagian ahli menilai, tren ini bisa menciptakan pressure baru: seolah-olah setiap orang harus healing dengan cara yang “estetik” dan “instagramable”.
Meski begitu, ada sisi positif yang patut diapresiasi. Banyak anak muda kini lebih terbuka bicara soal kesehatan mental dan pentingnya self-love. Mereka belajar bahwa menjaga diri bukan egois, tapi bentuk tanggung jawab terhadap kebahagiaan sendiri.
Pada akhirnya, “healing” bukan soal tempat atau biaya, tapi soal niat dan kesadaran. Bisa jadi, healing terbaik justru saat kita berani berdamai dengan diri sendiri — tanpa perlu filter Instagram.