Gelombang Panas dan Kesehatan Mental Remaja: Mengapa Pendidikan Luar Sekolah Perlu Terlibat?
Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena gelombang panas (heatwave)
bukan lagi isu yang hanya terjadi di luar negeri. Sejumlah wilayah di Indonesia
mulai mengalami suhu ekstrem yang mencapai 37–40°C, terutama saat periode
kemarau panjang. Dampaknya tidak hanya terasa pada aspek fisik seperti
dehidrasi dan kelelahan, tetapi juga pada kesehatan mental,
terutama pada kelompok remaja yang berada pada fase perkembangan emosional yang
rentan.
Selama ini, pembahasan mengenai gelombang panas lebih banyak fokus pada
risiko medis dan lingkungan, sementara pengaruhnya terhadap psikologis
masyarakat—khususnya remaja—masih kurang diperhatikan. Padahal, penelitian
internasional menunjukkan bahwa kenaikan suhu ekstrem dapat memicu stres,
gangguan tidur, iritabilitas, penurunan konsentrasi, hingga kecenderungan
perilaku agresif.
Ketika isu kesehatan mental belum menjadi prioritas dalam sistem pendidikan formal, pendidikan luar sekolah berpotensi menjadi pintu masuk penting untuk meningkatkan kesadaran, empati sosial, dan kemampuan adaptasi remaja menghadapi perubahan iklim.