Ghosting Bukan Hanya di Cinta: Dunia Kerja Pun Mulai Main Menghilang!
Kalau dulu istilah ghosting cuma dipakai buat kisah asmara yang bikin baper, sekarang dunia kerja juga kena imbasnya. Banyak perusahaan dan pelamar yang sama-sama “menghilang tanpa kabar” setelah proses rekrutmen berjalan. Dunia profesional kini ikut terjangkit budaya seen tapi tidak dibalas—versi karier.
Fenomena ini makin sering terjadi di kalangan anak muda. Beberapa HRD mengeluh, banyak pelamar yang tiba-tiba tidak datang saat wawancara, atau malah menghilang begitu saja setelah menerima tawaran kerja. Sebaliknya, banyak juga kandidat yang merasa “digantung” perusahaan karena tidak diberi kabar lanjutan setelah proses seleksi.
“Lucunya, di dunia kerja pun ternyata masih ada yang main ghosting,” ujar Dimas, lulusan baru yang sudah melamar ke belasan perusahaan tanpa balasan. “Padahal kalau ditolak, ya nggak apa-apa, yang penting ada kejelasan.”
Para pakar karier menilai fenomena ini sebagai tanda perubahan budaya komunikasi di era digital. Generasi muda cenderung menghindari konfrontasi langsung, bahkan dalam urusan profesional. Mereka memilih diam daripada memberi kabar buruk. Namun di sisi lain, perusahaan juga dinilai kurang transparan dan lamban dalam memberikan respon, sehingga menciptakan siklus saling menghilang.
Beberapa komunitas career support kini mulai mengkampanyekan etika digital dalam dunia kerja. Mereka mengingatkan bahwa profesionalisme tidak hanya soal skill, tapi juga soal komunikasi yang jujur dan sopan. “Menghilang itu bukan solusi, baik di cinta maupun di karier,” kata salah satu mentor karier muda.
Fenomena ghosting kerja ini seolah menunjukkan bahwa tantangan dunia profesional tidak lagi sekadar mencari pekerjaan, tapi juga belajar menghargai proses dan menjaga komunikasi. Karena dalam dunia nyata—tidak seperti chat yang bisa dihapus—reputasi sulit untuk diperbaiki setelah kita memilih menghilang.