Gotong Royong Membangun Ruang Belajar Masyarakat
Gotong royong merupakan
salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang mencerminkan semangat kebersamaan
dan kepedulian sosial. Nilai ini menjadi pondasi penting dalam upaya membangun
ruang belajar masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah
perkembangan zaman yang serba modern, semangat gotong royong justru menjadi
kekuatan utama untuk memperkuat pendidikan nonformal, terutama di daerah-daerah
yang masih minim akses terhadap fasilitas pendidikan. Melalui kerja sama antara
warga, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan luar sekolah, ruang belajar
dapat diwujudkan bukan hanya sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi juga
sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang menumbuhkan rasa memiliki dan
tanggung jawab bersama.
Partisipasi aktif
masyarakat dalam menciptakan ruang belajar menjadi cerminan nyata dari semangat
gotong royong. Banyak contoh di lapangan ketika warga dengan sukarela
menyumbangkan tenaga, waktu, bahkan lahan untuk dijadikan tempat belajar bagi
anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang belum sempat menempuh pendidikan
formal. Di sinilah pendidikan luar sekolah memainkan peran penting dengan
memfasilitasi kegiatan belajar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat,
seperti kursus keterampilan, pendidikan keaksaraan, hingga pelatihan
kewirausahaan. Keterlibatan semua pihak, mulai dari mahasiswa, relawan, hingga
aparat desa, memperkuat pesan bahwa membangun pendidikan bukan hanya tanggung
jawab pemerintah, tetapi tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
Dengan adanya semangat gotong royong dalam membangun ruang belajar masyarakat, tercipta ekosistem pendidikan yang hidup, partisipatif, dan berdaya guna. Ruang belajar tidak lagi dipandang sekadar tempat belajar, melainkan pusat pengembangan potensi manusia dan sosial yang berakar pada budaya lokal. Sinergi antara masyarakat dan lembaga pendidikan luar sekolah mampu menumbuhkan kemandirian, solidaritas, serta semangat belajar sepanjang hayat. Melalui gotong royong, masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat pendidikan, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menciptakan perubahan positif bagi lingkungannya. Semangat ini perlu terus dijaga agar pendidikan nonformal tetap menjadi jembatan bagi terciptanya masyarakat yang cerdas, kreatif, dan berdaya saing.