Guru Bicara: Tantangan Mengajar Materi TKA di Sekolah Menengah
Dalam konteks
pendidikan nasional, Tes Kompetensi Akademik (TKA) menjadi salah satu instrumen
penting dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. Keberadaan TKA menuntut
kesiapan akademik yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga aplikatif,
terutama dalam ranah kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Namun, di
balik urgensinya, pengajaran materi yang relevan dengan TKA di tingkat sekolah
menengah menghadirkan sejumlah tantangan bagi para pendidik. Guru berada di
garis depan dalam menghubungkan capaian pembelajaran Kurikulum Merdeka dengan
tuntutan akademik TKA yang bersifat terstandar dan kompetitif.
Salah satu tantangan
utama yang dihadapi guru adalah penyesuaian kurikulum. Kurikulum
Merdeka memberikan fleksibilitas dan menekankan pembelajaran berbasis proyek,
sedangkan TKA menuntut penguasaan konsep akademik yang terukur melalui
soal-soal analitis. Ketidaksesuaian orientasi ini menyebabkan guru perlu
berinovasi dalam merancang strategi pembelajaran yang mampu menyeimbangkan dua
arah kebijakan tersebut. Guru harus memastikan peserta didik memperoleh
pemahaman mendalam terhadap materi inti, tanpa mengorbankan prinsip kebebasan
belajar yang menjadi dasar Kurikulum Merdeka.
Selain itu, keterbatasan
sumber belajar dan sarana latihan juga menjadi persoalan yang cukup
signifikan. Banyak sekolah, khususnya di daerah, belum memiliki akses terhadap
bank soal TKA yang representatif atau sistem latihan berbasis digital yang
mampu mensimulasikan pengalaman ujian sesungguhnya. Hal ini berdampak pada
rendahnya kesiapan siswa menghadapi pola soal yang menuntut kemampuan berpikir
tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Akibatnya, guru seringkali
mengambil inisiatif untuk mengembangkan materi tambahan atau menyusun latihan
mandiri, meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Tantangan berikutnya
terletak pada kapasitas pedagogis dan profesionalisme guru. Mengajar
materi yang bersinggungan dengan TKA membutuhkan pemahaman yang kuat terhadap
konsep akademik lintas bidang serta kemampuan mengelola pembelajaran berbasis
penalaran. Tidak semua guru memiliki latar belakang pelatihan yang memadai
untuk mengajarkan materi yang menekankan analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh
karena itu, pelatihan profesional berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak agar
guru dapat beradaptasi dengan tuntutan asesmen modern yang menitikberatkan pada
kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Selain aspek
akademik, guru juga menghadapi tantangan psikologis dan motivasional
dari peserta didik. Banyak siswa memandang TKA sebagai ujian yang sulit dan
menegangkan, sehingga menimbulkan kecemasan belajar. Dalam situasi ini, guru
berperan tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing yang
membantu siswa mengelola stres, menumbuhkan kepercayaan diri, dan memupuk
motivasi intrinsik untuk belajar. Pendekatan holistik yang menggabungkan aspek
kognitif dan afektif menjadi sangat penting untuk memastikan kesiapan siswa
menghadapi ujian dengan optimal.
Pada akhirnya,
tantangan mengajar materi TKA di sekolah menengah tidak dapat diselesaikan
hanya melalui kerja individu guru semata. Diperlukan sinergi antara
kebijakan pendidikan, lembaga sekolah, dan dukungan teknologi pembelajaran
agar proses persiapan siswa berjalan efektif. Integrasi antara pembelajaran
berbasis kompetensi dengan penguatan akademik menuju TKA merupakan langkah
strategis untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan nasional tidak hanya
berfokus pada hasil ujian, tetapi juga pada pembentukan profil pelajar yang
kritis, adaptif, dan berdaya saing di era global.