Hallyu Wave sebagai Media Pemberdayaan: Strategi PLS Mengemas Program Pendidikan Berbasis Minat K-Pop
Gelombang
Hallyu Wave yang membawa budaya populer Korea Selatan—mulai dari K-Pop,
K-Drama, hingga fashion dan kuliner—telah merambah kehidupan remaja Indonesia.
Banyak yang melihatnya sebagai tren hiburan semata, padahal di balik itu semua
terdapat potensi besar untuk pemberdayaan, terutama jika dikelola melalui
program-program kreatif di ranah Pendidikan Luar Sekolah (PLS).
Lembaga
PLS seperti PKBM, Lembaga Kursus dan Pelatihan, sanggar seni, maupun komunitas
belajar bisa menjadikan minat terhadap K-Pop sebagai pintu masuk untuk
membangun program pendidikan berbasis minat. Alih-alih melarang remaja terlalu
larut dalam fandom, PLS justru bisa mengajak mereka mengolah kegemaran itu
menjadi aktivitas belajar yang terarah.
Program
yang bisa dikembangkan sangat beragam. Misalnya, kelas dance cover K-Pop untuk
melatih disiplin, kerja sama tim, dan kepercayaan diri. Lalu kursus bahasa
Korea dasar yang membuka wawasan bahasa asing dan budaya global. Ada juga
pelatihan konten kreator bertema K-Pop, di mana remaja belajar membuat video
reaction, vlog konser, atau ulasan album sambil mengasah kemampuan editing dan
literasi digital.
Selain
mengembangkan soft skill, program berbasis minat K-Pop juga dapat diarahkan ke
ranah kewirausahaan. PLS bisa mengajarkan cara mendesain merchandise sederhana,
membuat poster, photocard, atau membuka jasa makeup dan styling ala Korea.
Dengan pendampingan yang baik, remaja belajar melihat peluang usaha dari
sesuatu yang mereka sukai. Ini sejalan dengan semangat pemberdayaan: bukan
hanya menikmati budaya, tetapi juga mampu mengambil manfaat ekonomi darinya.
Strategi
penting dalam mengemas program seperti ini adalah menjaga keseimbangan antara
unsur hiburan dan unsur pendidikan. Materi tetap disusun dengan tujuan
pembelajaran yang jelas, namun disajikan dengan cara yang santai, relevan, dan
tidak menggurui. PLS memiliki keleluasaan untuk menyusun jadwal fleksibel,
metode partisipatif, dan suasana ramah remaja.
Melalui
pemanfaatan Hallyu Wave, PLS menunjukkan bahwa pendidikan bisa sangat dekat
dengan dunia remaja. Minat terhadap K-Pop dan budaya Korea tidak lagi dipandang
sebagai hal yang mengganggu, tetapi sebagai modal awal untuk membangun
kepercayaan diri, keterampilan, dan kemandirian generasi muda.