Kenaikan BBM dan Dampaknya bagi Mahasiswa Kota: Antara Bertahan dan Beradaptasi
Kenaikan harga BBM subsidi yang diumumkan pemerintah awal Oktober lalu memicu berbagai reaksi di kalangan masyarakat, terutama mahasiswa di kota-kota besar. Banyak yang merasa kenaikan ini bukan sekadar soal transportasi, tapi juga biaya hidup yang semakin menekan.
Mahasiswa yang biasanya bergantung pada kendaraan bermotor untuk kuliah kini mulai mencari alternatif, seperti berboncengan, naik transportasi umum, atau bahkan bersepeda. Beberapa universitas pun mulai menyesuaikan jadwal kuliah agar mahasiswa yang tinggal jauh bisa lebih fleksibel.
Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Wahyu Santoso, dampak kenaikan BBM paling terasa di sektor konsumsi harian. “Harga bahan pokok dan transportasi meningkat, yang artinya daya beli mahasiswa dan masyarakat kelas menengah ikut tertekan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah menjelaskan bahwa kebijakan ini perlu diambil karena anggaran subsidi energi sudah membengkak hingga lebih dari Rp500 triliun. Sebagian dana hasil pengalihan subsidi tersebut akan dialokasikan untuk bantuan langsung tunai dan program transportasi publik ramah lingkungan.
Bagi mahasiswa, situasi ini menjadi pelajaran nyata tentang bagaimana kebijakan ekonomi nasional berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Tantangannya kini bukan hanya bertahan, tapi juga beradaptasi dengan gaya hidup baru yang lebih hemat dan berkelanjutan.