Kesepian di Tengah Keramaian Kampus: Realita yang Sering Terabaikan
Ironisnya, kampus yang ramai justru bisa menjadi tempat paling sepi bagi sebagian mahasiswa. Di tengah tawa teman-teman, kegiatan organisasi, dan hiruk-pikuk perkuliahan, banyak mahasiswa yang merasa sendirian, terasing, dan tidak benar-benar memiliki tempat untuk bercerita. Fenomena ini dikenal sebagai loneliness on campus kesepian yang tumbuh di tengah keramaian.
Riset oleh American College Health Association (2023) menemukan bahwa hampir 65% mahasiswa merasa kesepian setidaknya sekali dalam sebulan, meskipun dikelilingi oleh orang-orang. Kesepian ini sering muncul karena tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia, padahal di dalam hati mereka sedang berjuang menghadapi stres, kecemasan, atau perasaan tidak dimengerti.
Faktor lain yang memicu kesepian adalah perubahan lingkungan sosial. Mahasiswa baru yang harus beradaptasi, pindahan dari luar kota, hingga tuntutan akademik yang padat membuat mereka kesulitan membangun hubungan yang bermakna. Kondisi ini bisa berdampak serius pada kesehatan mental dari gangguan tidur hingga depresi ringan.
Namun, ada harapan di balik fenomena ini. Banyak kampus kini mulai membuka ruang aman seperti komunitas pendamping mahasiswa, klub hobi, hingga layanan konseling gratis. Mahasiswa juga bisa memulai langkah kecil: berani membuka diri, bergabung dalam kegiatan positif, dan tidak menilai diri hanya dari interaksi di media sosial.
Kesepian bukan kelemahan, melainkan sinyal bahwa manusia butuh koneksi yang lebih tulus. Di dunia akademik yang serba sibuk, penting bagi setiap mahasiswa untuk menyadari bahwa belajar tidak hanya soal ilmu, tapi juga tentang menemukan makna kebersamaan. Karena terkadang, satu percakapan hangat lebih berharga daripada seribu pencapaian akademik.