Ketika Gadget Menjadi Teman Baru di Meja Belajar
Pada era digital saat ini, banyak anak sekolah dasar
mulai menggunakan gadget seperti tablet atau smartphone sebagai alat bantu
belajar. Perangkat digital tersebut membawa kemudahan—akses video pembelajaran,
aplikasi interaktif, hingga kuis online—yang membantu siswa menangkap materi
dengan cara yang berbeda dari metode tradisional.
Namun, di balik kemudahan itu terdapat tantangan. Siswa bisa menjadi kurang
fokus bila gadget digunakan tanpa bimbingan guru atau orang tua, karena
gangguan dari aplikasi hiburan atau media sosial leluasa. Penelitian
menunjukkan bahwa durasi pemakaian gadget yang panjang tanpa pengaturan dapat
berdampak negatif terhadap sosialisasi dan perkembangan anak.
Guru dan orang tua perlu berdiskusi bersama untuk membuat aturan penggunaan
gadget yang seimbang. Misalnya: hanya gunakan gadget selama 1 jam untuk belajar
setelah sekolah, lalu beralih ke aktivitas fisik atau seni budaya. Dengan
demikian gadget menjadi alat bantu, bukan pengganti interaksi langsung dan
aktivitas kreatif.
Selain itu, guru mata pelajaran seperti Seni Budaya dapat memanfaatkan gadget
untuk menampilkan video pendek, aplikasi seni, atau kuis interaktif—dengan
pengawasan dan sesi diskusi setelahnya. Ini menjadikan gadget sebagai sarana
mendukung belajar, bukan sekadar konsumsi pasif.
Terakhir, penting untuk menanamkan kepada siswa nilai bahwa gadget adalah alat
bantu, bukan teman utama. Aktivitas langsung seperti menggambar, bermain alat
musik, atau berkolaborasi dalam kelompok tetap harus menjadi bagian utama
pengalaman belajar. Dengan demikian, keseimbangan tercapai antara teknologi dan
pembelajaran konvensional