Literasi Digital Sebagai Kompetensi Dasar SDM Masa Kini
Di tengah derasnya
arus transformasi digital, kemampuan literasi digital kini menjadi kebutuhan
mendasar bagi setiap individu yang ingin berdaya saing di dunia modern. Tidak
lagi sekadar keterampilan tambahan, literasi digital telah bertransformasi
menjadi kompetensi inti yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) di
berbagai sektor kehidupan — mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga
pemerintahan.
Menurut data Kementerian
Komunikasi dan Informatika (Kominfo, 2024), indeks literasi digital
nasional Indonesia berada pada angka 3,65 dari skala 5. Angka ini menunjukkan
kemajuan, tetapi juga menyiratkan bahwa kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan
teknologi masih perlu terus ditingkatkan, terutama dalam aspek etika digital,
keamanan siber, dan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi daring.
“Literasi digital
bukan hanya tentang bisa menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga tentang
kemampuan memahami, menilai, dan menciptakan informasi secara bertanggung
jawab,” ujar Dr. Mira Handayani, pakar literasi digital dari Universitas
Indonesia. Ia menekankan bahwa SDM unggul di era digital adalah mereka yang
mampu menggunakan teknologi untuk produktivitas, inovasi, dan kebermanfaatan
sosial.
Di dunia
pendidikan, berbagai lembaga nonformal dan perguruan tinggi kini mengembangkan
kurikulum berbasis digital literacy. Mahasiswa dan pelajar tidak hanya
diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga cara mengelola jejak digital,
menjaga privasi, serta berpikir kritis terhadap hoaks dan disinformasi. Program
seperti Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi telah
menjangkau jutaan peserta di seluruh Indonesia, membekali masyarakat dengan
pemahaman praktis tentang penggunaan internet yang aman dan bermanfaat.
Sementara itu,
dunia industri juga menuntut SDM yang melek digital. Perusahaan kini mencari
pekerja yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru — dari penggunaan artificial
intelligence hingga analitik data. Dalam konteks ini, literasi digital
menjadi jembatan antara kompetensi teknis dan kemampuan komunikasi manusiawi.
Seorang karyawan yang mampu mengelola data secara cerdas sekaligus beretika
digital akan jauh lebih bernilai dibanding yang hanya memiliki kemampuan teknis
semata.
Namun, tantangan
tetap besar. Masih banyak masyarakat di daerah tertinggal yang belum memiliki
akses memadai terhadap internet dan perangkat digital. Menurut laporan APJII
(Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, 2024), sekitar 12%
populasi Indonesia masih belum terjangkau jaringan internet stabil. Tanpa
pemerataan infrastruktur, kesenjangan digital akan menjadi penghambat utama
peningkatan kualitas SDM nasional.
Untuk menjawab
tantangan tersebut, pemerintah bersama sektor swasta kini memperluas program
pelatihan literasi digital berbasis komunitas. Pendekatan ini terbukti efektif
karena memanfaatkan potensi lokal — seperti pelatihan di PKBM, sanggar kegiatan
belajar, dan balai latihan kerja. Dengan model ini, masyarakat tidak hanya
belajar teknologi, tetapi juga memahami bagaimana teknologi dapat membantu
mereka dalam bekerja, berwirausaha, dan berinovasi.
Literasi digital
bukan lagi pilihan, melainkan fondasi utama dalam membangun SDM unggul di abad
ke-21. Di tangan generasi muda yang cakap digital, Indonesia berpeluang besar
untuk melangkah menuju Indonesia Emas 2045 — sebuah era di mana
teknologi dan kemanusiaan berjalan beriringan untuk menciptakan kemajuan yang
inklusif dan berkelanjutan.