Mahasiswa dan Budaya Begadang: Antara Kreativitas dan Risiko Kesehatan
Bagi sebagian mahasiswa, begadang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Entah karena mengejar deadline tugas, menyiapkan presentasi, atau sekadar berbincang panjang dengan teman, malam hari seolah menjadi waktu paling produktif. Budaya “begadang adalah teman mahasiswa” bahkan dianggap sebagai simbol perjuangan menuju kesuksesan akademik.
Namun di balik romantisasi itu, begadang menyimpan risiko serius bagi kesehatan fisik dan mental. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Sleep Health Journal (2020), mahasiswa yang tidur kurang dari enam jam per malam memiliki tingkat stres 40% lebih tinggi dan kemampuan fokus 30% lebih rendah dibandingkan mereka yang memiliki pola tidur teratur. Kurang tidur juga berdampak pada daya tahan tubuh, emosi, serta kualitas interaksi sosial.
Banyak mahasiswa menganggap malam adalah waktu paling tenang untuk berpikir dan berkarya. Hal ini tidak sepenuhnya salah bagi sebagian orang, kreativitas memang muncul saat suasana hening. Namun, tanpa pengaturan waktu yang baik, kebiasaan ini bisa menimbulkan kelelahan kronis yang justru menurunkan produktivitas.
Kampus seharusnya mulai mengubah cara pandang terhadap produktivitas mahasiswa. Alih-alih memuji kerja keras tanpa tidur, penting untuk menanamkan kesadaran bahwa istirahat adalah bagian dari keberhasilan belajar. Mengatur jadwal, menggunakan teknik manajemen waktu seperti Pomodoro, dan menghindari menunda tugas bisa membantu mahasiswa tidur lebih cukup tanpa mengorbankan kinerja.
Pada akhirnya, begadang memang kadang tak terhindarkan, tapi menjadikannya gaya hidup bukan pilihan bijak. Produktivitas sejati bukan tentang siapa yang tidur paling sedikit, tetapi siapa yang mampu menjaga keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan ambisinya.