Media Sosial dan Tantangan Identitas Anak Usia Sekolah
Media sosial kini tidak hanya digunakan oleh remaja
atau dewasa—anak-anak usia sekolah dasar mulai tertarik membentuk profil
digital mereka di platform tertentu. Mereka melihat orang tua, kakak, atau
teman menggunakan media sosial, lalu menirunya sebagai fenomena “ingin juga
punya akun”.
Namun, fenomena ini membawa tantangan baru: identitas digital anak bisa
terbentuk sebelum mereka siap secara emosional. Sikap seperti membandingkan
diri dengan teman di media sosial, mengejar “likes” atau komentar, hingga takut
ketinggalan trending bisa muncul. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pola
penggunaan media sosial yang intens dapat meningkatkan risiko masalah
sosial-emosional.
Untuk guru dan orang tua, penting memperkenalkan konsep “jejak digital” dan
“privasi online” sejak usia dini. Anak perlu memahami bahwa apa yang mereka
unggah bisa permanen dan memengaruhi reputasi mereka. Diskusi klasikal di kelas
Seni Budaya bisa dengan tema: “Bagaimana media sosial bisa membantu atau
menyulitkan kita?”
Lebih lanjut, sekolah dapat menetapkan aturan bahwa siswa di kelas 1 SD belum
diperbolehkan memiliki akun media sosial sendiri tanpa pengawasan orang tua.
Fokus pada aktivitas offline seperti membuat karya seni lalu membagikannya ke
teman secara langsung bisa menjadi alternatif yang sehat.
Kesimpulannya: media sosial bagi anak usia sekolah bukan hanya soal
teknologi—melainkan soal pembentukan karakter, identitas, dan tanggung jawab
digital. Dengan arahan yang tepat, media sosial bisa dikelola sebagai ruang
positif, bukan sumber tekanan.