Media Sosial Sebagai Ruang Ekspresi – tapi Juga Risiko
Bagi
anak-anak usia sekolah, media sosial bisa menjadi wadah ekspresi: berbagi foto,
video hasil karya seni, atau kegiatan sekolah mereka. Dengan bimbingan, ini
bisa memperkuat rasa bangga dan identitas positif.
Namun, sisi lain yang perlu diperhatikan adalah risiko: komentar negatif,
tekanan untuk “berkinerja” di media sosial, atau mengejar popularitas bisa
muncul. Studi menunjukkan bahwa bukan hanya waktu penggunaan gadget yang
berpengaruh, melainkan bagaimana anak menggunakan dan meresponnya.
Sekolah dan orang tua perlu membekali siswa dengan literasi digital: bagaimana
cara aman berbagi konten, memahami privasi, dan mengelola tekanan sosial.
Misalnya, guru Seni Budaya bisa meminta siswa membuat video pendek tentang
proyek seni mereka dan kemudian berbicara bersama kelas tentang pengalaman
tersebut—baik positif maupun tantangannya.
Selain itu, perlu dibuat kesepakatan bersama bahwa akun media sosial pribadi
untuk siswa kelas 1 SD belum diperlukan; sebagai gantinya, sekolah bisa membuat
akun terbuka untuk karya siswa yang dikelola guru dan orang tua. Hal ini
menjaga privasi anak dan memberi ruang berekspresi yang aman.
Pada akhirnya, media sosial bisa menjadi alat yang memberdayakan anak jika
digunakan dengan bijak—bukan menjadi perangkap tekanan atau risiko sosial.