Mencicipi Papeda: Bubur Lendir Maluku-Papua yang Menantang Lidah”
Di wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua, Anda
akan menemukan satu hidangan yang mungkin terasa asing bagi banyak orang di
pulau lain: papeda. Hidangan ini berbahan dasar sagu yang diolah menjadi
semacam bubur kenyal dan agak lengket, lalu disajikan biasanya bersama kuah
ikan kuning yang kaya rempah.
Papeda menantang lidah karena teksturnya yang sangat berbeda dari nasi atau mie
— ia seperti lem tahintai pasta ringan yang mengalir saat diputar-putar
menggunakan sendok kayu atau tongkat kecil. Proses makannya sendiri sering kali
menjadi pengalaman budaya yang unik bagi wisatawan.
Fungsi papeda di masyarakat timur tak hanya sebagai makanan sehari-hari, tetapi
juga sebagai simbol identitas lokal terhadap sagu sebagai bahan pangan utama.
Keunikan ini membuat papeda menjadi representasi bagaimana masyarakat
menyesuaikan bahan alam dengan tradisi kuliner mereka.
Bagi pengajar Seni Budaya, papeda bisa menjadi topik menarik: mengajak siswa
memahami bahan pangan tradisional dan bagaimana kekayaan daerah tampak dalam
makanan sehari-hari. Misalnya, siswa bisa diajak membuat “mini papeda” dari
bahan tepung sagu atau menjajal tekstur kenyal dalam eksperimen sederhana.
Namun, tantangan keberlanjutan papeda adalah perubahan pola makan yang semakin
mengarah ke nasi, mie instan, dan makanan cepat saji. Memperkenalkan papeda ke
generasi muda sebagai pilihan menarik dan kaya budaya bisa membantu menjaga
keberlanjutan kuliner lokal.
Dengan demikian, papeda tidak hanya makanan — ia adalah jendela ke warisan
kuliner timur Indonesia yang unik, menuntut rasa keberanian sekaligus apresiasi
terhadap tradisi daerah.