Mengapa Kita Perlu Tidur?
Tidur adalah fondasi kesehatan, melampaui sekedar mengistirahatkan tubuh yang lelah. Fisiologisnya, tidur dibagian menjadi siklus 90 menit yang bergantian antara dua fase utama: Tidur Non-REM (NREM) dan Tidur REM (Rapid Eye Movement). Tahap NREM awal (N1, N2) berfungsi sebagai transisi, di mana suhu tubuh dan detak jantung melambat. Tahap NREM ketiga, yang disebut slow-wave sleep atau tidur dalam, adalah yang paling restoratif. Selama fase ini, tubuh secara intensif memperbaiki diri: hormon pertumbuhan dilepaskan, jaringan otot diperbaiki, dan sistem kekebalan tubuh memproduksi zat-zat pelindung untuk melawan infeksi. Ini adalah waktu istirahat fisik dan pemulihan energi terbesar.
Namun, pekerjaan terpenting terjadi di otak. Baru-baru ini, ilmuwan menemukan Sistem Glimfatik otak, yang hanya aktif secara signifikan saat kita tidur. Sistem ini menyedot cairan serebrospinal ke dalam jaringan otak, membersihkan limbah metabolik dan racun yang menumpuk saat kita terjaga. Salah satu limbah krusial yang dibersihkan adalah protein beta-amiloid, yang akumulasi kronisnya sangat terkait dengan perkembangan penyakit Alzheimer.
Sementara itu, Tidur REM adalah waktu untuk memproses kognitif. Meskipun tubuh lumpuh sementara, otak bekerja dengan kecepatan tinggi. Ini adalah fase bermimpi di mana otak mengkonsolidasikan memori dan mengintegrasikan pembelajaran baru. Proses ini memilah data dan mengubah informasi jangka pendek menjadi memori jangka panjang. Kurangnya tidur kronis tidak hanya memicu gangguan fisik dan emosional (seperti peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kesulitan mengatur suasana hati), tetapi juga memicu kapasitas kognitif kita, membuat kita sulit fokus, belajar, dan membuat keputusan yang logis.