Mengapa Ponsel Terasa Panas Saat Digunakan Terlalu Lama?
Panas pada ponsel adalah produk sampingan dari energi yang digunakan oleh komponen internalnya, karena tidak ada energi yang hilang begitu saja; ia hanya berubah bentuk, dalam hal ini menjadi panas. Komponen utama yang bertanggung jawab atas panas adalah System-on-a-Chip (SoC) atau prosesor. Prosesor menjalankan miliaran operasi per detik untuk segala hal, mulai dari animasi antarmuka hingga pemrosesan grafis 3D yang intensif. Semakin keras ia bekerja (misalnya, saat bermain game beresolusi tinggi, merekam video 4K, atau melakukan multitasking berat), semakin banyak energi yang digunakan, dan semakin banyak panas yang dihasilkan.
Selain prosesor, panas juga datang dari baterai dan modul komunikasi. Pengisian daya cepat (pengisian cepat) menghasilkan panas yang signifikan karena energi dipompa dengan cepat ke dalam sel baterai. Demikian pula, saat sinyal nirkabel (Wi-Fi, 4G, 5G) lemah, ponsel harus mengerahkan daya lebih besar untuk mencari atau mempertahankan koneksi jaringan, yang juga memicu peningkatan suhu.
Karena ponsel modern harus tipis dan tidak dapat menampung kipas pendingin aktif seperti laptop, mereka mengandalkan sistem pendingin pasif. Ini melibatkan penggunaan bahan termal seperti lembaran grafit, pasta termal, atau ruang uap (ruang uap) untuk menyerap panas dari SoC dan menyebarkannya ke area yang lebih luas di bagian belakang casing. Ketika panas internal melebihi kapasitas pendinginan pasif ini, ponsel akan menerapkan thermal throttling, yaitu secara otomatis mengurangi kecepatan prosesor untuk menurunkan suhu. Inilah sebabnya ponsel terasa lambat atau lag saat terlalu panas—ini adalah mekanisme pertahanan internal untuk mencegah kerusakan komponen.