Mengapa Seminggu Ada Tujuh Hari?
Struktur minggu tujuh hari yang kita gunakan saat ini bukanlah standar kalender universal (beberapa peradaban kuno menggunakan minggu sepuluh atau lima hari), tetapi merupakan warisan kuno yang sangat spesifik dari peradaban Mesopotamia. Sistem ini secara historis dapat ditelusuri kembali ke Peradaban Babilonia kuno, yang sangat mahir dalam astronomi dan astrologi.
Bagi Bangsa Babilonia, angka tujuh memiliki makna yang mendalam karena didasarkan pada jumlah benda langit yang mereka amati yang bergerak relatif terhadap bintang-bintang: Matahari, Bulan, dan lima planet yang terlihat dengan mata telanjang (Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus). Mereka percaya bahwa setiap benda langit ini memiliki pengaruh pada setiap hari.
Struktur ini kemudian diadopsi dan dipopulerkan di seluruh dunia kuno. Bangsa Romawi, misalnya, mengaitkan hari-hari ini dengan dewa-dewa yang namanya berasal dari benda langit tersebut (misalnya, Dies Solis untuk Matahari/Minggu, Dies Lunae untuk Bulan/Senin, dst). Praktik ini kemudian dipertahankan oleh Kekristenan dan menjadi standar dalam kalender Julian dan Gregorius yang digunakan secara global saat ini, meskipun alasannya kini lebih bersifat tradisi daripada astronomi.