Mengatasi Konflik Sosial dengan Pendidikan Non Formal dan Intervensi Pekerjaan Sosial
Konflik sosial sering terjadi
akibat kesenjangan pengetahuan, kesalahpahaman, dan kurangnya komunikasi
antarwarga. Pekerja sosial berperan sebagai mediator dengan memanfaatkan
pendidikan non formal untuk membangun kesadaran dan keterampilan resolusi
konflik. Proses ini dilakukan melalui dialog komunitas, pelatihan komunikasi
efektif, dan penyusunan strategi bersama.
Pendidikan non formal berfungsi
sebagai ruang pembelajaran yang terbuka untuk membahas isu sensitif tanpa
tekanan. Masyarakat diajak memahami penyebab konflik dan mencari solusi yang
menguntungkan semua pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan secara kelompok dan
difasilitasi oleh pekerja sosial.
Selain itu, pelatihan soft skill
seperti empati, negosiasi, dan kerja sama diajarkan untuk menciptakan
lingkungan yang harmonis. Pekerja sosial mendorong masyarakat agar tidak hanya
menyelesaikan konflik, tetapi juga membangun sistem pencegahan berbasis
komunitas.
Program pendidikan non formal
juga dikombinasikan dengan penguatan kepercayaan antarwarga melalui proyek
bersama. Misalnya, kerja bakti, pelatihan bisnis kelompok, atau forum
musyawarah desa. Kegiatan kolaboratif ini menjadi sarana mempererat hubungan.
Dengan pendekatan yang tepat,
konflik dapat berubah menjadi peluang untuk memperkuat solidaritas. Kolaborasi
pekerja sosial dan pendidikan non formal terbukti efektif dalam menciptakan
masyarakat yang lebih sadar, terbuka, dan siap hidup berdampingan secara damai.