Misteri Piramida Giza: Bagaimana Dibangun?
Piramida Agung Giza, monumen Firaun Khufu dari Dinasti Keempat Mesir Kuno (sekitar 2550 SM), tetap menjadi keindahan teknik dan logistik. Bangunan ini terdiri dari sekitar 2,3 juta balok batu, yang sebagian besarnya adalah batu kapur lokal, dengan berat rata-rata 2,5 ton per balok. Pertanyaan terbesarnya adalah: bagaimana peradaban tanpa katrol, roda, atau alat besi dapat mengangkat dan menempatkan jutaan ton batu seakurat itu?
Bukti arkeologis modern menunjukkan bahwa tenaga kerja bukanlah budak, melainkan tenaga kerja terorganisir yang terdiri dari ribuan pekerja terampil yang dibayar, diberi makan, dan dihormati. Untuk mengangkut batu kapur masif dari tambang terdekat, para pekerja diperkirakan menggunakan sistem jalur darat dan perairan. Sebuah penemuan penting menunjukkan bahwa mereka membasahi pasir di depan kereta luncur yang membawa batu. Udara bertindak sebagai pelumas yang mengurangi sirkulasi secara dramatis, memungkinkan para pekerja menarik beban berat dengan tenaga yang jauh lebih sedikit.
Meskipun metode pengangkutan yang tepat masih diperdebatkan (apakah menggunakan tanjakan lurus, tanjakan spiral di sekeliling piramida, atau kombinasi keduanya), presisi konstruksinya sangat mencengangkan. Sisi-sisi piramida hampir sejajar sempurna dengan arah mata angin (Utara, Selatan, Timur, Barat), dan balok-balok batu dipasang dengan toleransi yang sangat kecil. Ini menunjukkan pengetahuan astronomi dan matematika yang sangat canggih.