Mix and Match Ala Gen Z: Padu Padan Unik dari Thrift Store hingga Brand Premium
Dinamika mode yang bergerak cepat, generasi muda khususnya Generasi Z Indonesia
mengadopsi strategi fashion yang semakin kreatif memadu-padankan pakaian bekas dari thrift
store dengan barang high-end atau brand premium. Kombinasi ini bukan hanya soal “menjalin
gaya” tetapi juga bentuk ekspresi identitas, kreativitas, dan sikap kritis terhadap kultur
konsumsi. Konsep thrift + luxury kini muncul sebagai tren mode yang merefleksikan nilai
estetika, ekonomis, dan lingkungan sekaligus.
Thrifting sebagai pijakan gaya
Tren thrift shop (belanja pakaian bekas atau preloved) sudah berkembang kuat di kalangan Gen
Z Indonesia. Sebuah studi mengungkap bahwa:
“Tren fashion thrift makin digemari … jika dulu banyak orang yang berlomba-lomba untuk
mengikuti tren fashion yang ada, kini hal itu sudah mulai ditinggalkan.”
Penelitian lainnya menyebutkan:
“Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap lingkungan secara kolektif
memengaruhi niat pembelian fashion berkelanjutan …” Melalui aktivitas thrift, Gen Z tidak
hanya mencari pakaian murah atau vintage mereka juga mengeksplorasi keunikan gaya dan
suara pribadi lewat fashion.
Mengapa memilih gaya “thrift + brand premium”?
Kombinasi antara barang thrift dan brand premium jadi gaya yang populer karena beberapa
alasan:
• Harga dan nilai kreativitas: Barang thrift memberikan kesempatan menemukan item unik
atau vintage dengan harga terjangkau.
• Identitas & ekspresi: Padu-padan dengan item brand premium memungkinkan Gen Z
menampilkan sisi aspiratif, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada barang mewah.
Sebagai artikel gaya hidup mengatakan:
“Mix and match thrift ala Gen Z terbukti bikin outfit simpel jadi keren … Fashion ala Gen Z lebih
mengutamakan kreativitas dan keberanian bereksperimen, bukan soal harga pakaian.”
Kesadaran lingkungan & keberlanjutan: Aktivitas thrift menyentuh aspek lingkungan karena
mengurangi konsumsi barang baru. Studi menunjukkan bahwa faktor pengetahuan dan
kepedulian lingkungan memengaruhi pilihan fashion Gen Z.
• Media sosial dan kultur visual: Gaya kombinasi ini mudah muncul di platform seperti
Instagram atau TikTok, menjadi bagian dari curasi personal dan identitas digital.
Cara Gen Z mengaplikasikan mix-and-match
Tips nyata yang sering diterapkan Gen Z dalam gaya ini meliputi:
• Kombinasikan item vintage/thrift seperti oversized T-shirt, jaket kulit lawas, atau rok mini
motif retro dengan sneaker atau aksesori brand premium. (Contoh gaya dari artikel gaya
hidup)• Gunakan aksesori sebagai “jembatan” antara thrift dan premium. Sebagai satu
rekomendasi:
“Gunakan Aksesori Sebagai Penyeimbang … topi, belt, kacamata, atau anting unik dari thrift
market yang memberikan sentuhan personal pada outfit kamu.”
• Perhatikan tekstur, era, dan material: Mix antara bahan berbeda atau dari era berbeda
dianggap edgy dan mencerminkan keunikan.
• Jangan hanya fokus pada item premium besar; item thrift yang “dirawat” dengan baik
dan dipadukan dengan meyakinkan dapat menghasilkan tampilan yang “mahal” tanpa
menguras kantong.
• Sosialisasi melalui media sosial: Banyak Gen Z berbagi hasil gaya mereka—mencari
“harta karun” thrift, memberi tips styling, dan menunjukkan pengalaman mereka
berburu barang unik. Ini bukan hanya soal pakaian, tetapi tentang cerita dibaliknya.
Tantangan dan catatan penting
Walaupun sangat diminati, ada beberapa catatan:
• Kualitas barang thrift bisa sangat bervariasi penelitian “Analisis Perilaku Pembelian
Kembali Thrift Clothes pada Perempuan Gen Z” menunjukkan bahwa kualitas produk
menjadi faktor kunci kepuasan pembeli.
• Ada pertanyaan kritis apakah aktivitas thrift benar-benar berorientasi pada
keberlanjutan atau hanya tren gaya belaka. Sebuah artikel menyebut:
“Demam ‘thrifting’ kalangan Gen Z: Sekadar trendi atau benar-benar berkelanjutan?” Padu-
padan yang tepat memerlukan kreativitas dan selera gaya yang “campuran” bisa terlihat apik
atau bisa juga tampil ‘berantakan’ jika tidak diatur dengan baik.
Implikasi bagi brand dan industri fashion
• Brand premium dapat memanfaatkan tren ini dengan menawarkan koleksi yang mudah
dipadu-padan bersama barang thrift atau koleksi vintage.
• Thrift store dan toko preloved online dapat memperkuat posisi mereka sebagai bagian
dari ekosistem gaya Gen Z, tidak hanya sebagai alternatif murah tetapi juga sumber gaya
unik.
• Industri fashion secara keseluruhan diuntungkan oleh paradigma bahwa gaya tidak selalu
harus “baru mahal” melainkan cerdas dalam mempertemukan kreatifitas, keberlanjutan,
dan identitas.
Mix and match ala Gen Z dari thrift store hingga brand premium bukan sekadar tren sementara,
tetapi sebuah bentuk ekspresi diri yang menggabungkan nilai estetika, kreativitas, harga, dan
keberlanjutan. Ketika anak muda menggabungkan jaket kulit vintage dengan sneakers hype,
atau kaus band bekas dengan aksesori merek ternama, mereka sedang menulis narasi: “Saya
berbeda dan saya punya cerita.” Di dunia di mana visual dan identitas berjalan beriringan, gayaini menjadi pernyataan bahwa mode bukan hanya soal label atau harga, melainkan tentang
bagaimana kita memakai pakaian kita sebagai kanvas kreativitas dan keunikan kita.