Overthinking Nasional: Kenapa Anak Muda Lebih Takut Gagal daripada Mencoba?
Di tengah semangat generasi muda yang kreatif dan penuh ide, ada satu hal yang diam-diam menghambat langkah mereka: overthinking. Rasa takut gagal sering kali datang bahkan sebelum langkah pertama diambil. Banyak anak muda kini lebih sibuk menimbang “bagaimana kalau tidak berhasil” dibanding mencoba dan belajar dari prosesnya.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Tekanan sosial di era digital begitu besar — ketika pencapaian orang lain terpampang jelas di media sosial, dan standar kesuksesan seolah ditentukan oleh seberapa cepat seseorang “berhasil”. Akibatnya, banyak mahasiswa dan pelajar merasa tidak cukup baik, lalu terjebak dalam pikiran yang berputar tanpa henti.
“Takut gagal itu wajar, tapi kalau takut mencoba, kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh bisa melangkah,” ujar seorang konselor muda di Bandung. Ia menegaskan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kematangan.
Beberapa komunitas anak muda kini mulai bergerak melawan budaya takut gagal ini. Mereka membuat ruang aman untuk berbagi pengalaman, berbicara tentang kegagalan, dan saling menyemangati untuk terus mencoba. Dari situ tumbuh kesadaran baru: bahwa gagal bukan berarti kalah, melainkan bukti sudah berani melangkah.
Di balik semua rasa cemas dan keraguan, tersimpan potensi besar yang menunggu untuk diwujudkan. Setiap mimpi, sekecil apa pun, pantas diperjuangkan tanpa harus ditahan oleh rasa takut. Karena pada akhirnya, keberanian untuk memulai lebih berharga daripada kesempurnaan yang hanya dipikirkan.