Pekerjaan Sosial dan Pendidikan Non Formal dalam Pembinaan Warga Binaan Lapas
Lapas sering menjadi tempat yang
dianggap sebagai akhir dari perjalanan seseorang yang melanggar hukum. Namun,
bagi pekerja sosial, Lapas justru menjadi ruang potensial untuk membantu
individu memperbaiki hidupnya. Pendidikan non formal hadir sebagai sarana
pembinaan yang membantu warga binaan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan
setelah bebas.
Program pendidikan non formal di
Lapas umumnya mencakup pelatihan keterampilan seperti menjahit, pertukangan,
memasak, hingga kewirausahaan sederhana. Tujuannya agar warga binaan memiliki
keterampilan produktif yang bisa menjadi sumber pendapatan setelah keluar.
Pembinaan dilakukan secara sistematis dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta.
Pekerja sosial tidak hanya
mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga memberikan bimbingan moral dan
penguatan mental. Mereka membantu warga binaan memahami bahwa masa lalu tidak
selalu menentukan masa depan. Kondisi ini menciptakan motivasi baru untuk
berubah dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Melalui pendidikan non formal,
warga binaan juga belajar berinteraksi dengan positif dan bertanggung jawab.
Mereka dilibatkan dalam kerja tim, kegiatan keagamaan, dan pendampingan
psikologis. Hal ini membentuk karakter dan etika kerja yang penting untuk
bersosialisasi kembali dengan masyarakat.
Dengan pendekatan yang tepat,
banyak warga binaan yang berhasil menjadi wirausaha atau pekerja setelah
kembali ke masyarakat. Ini membuktikan bahwa pendidikan non formal dan
pekerjaan sosial bukan hanya bentuk rehabilitasi, tetapi juga kesempatan kedua
untuk membangun masa depan. Program ini semakin penting untuk terus dilanjutkan
dan dikembangkan.