Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan Berbasis Teknologi Digital
Perkembangan
teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia
pendidikan. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran dituntut untuk
mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut. Kompetensi guru tidak lagi hanya
diukur dari kemampuan mengajar secara konvensional, tetapi juga dari sejauh
mana guru mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran. Oleh karena
itu, pelatihan berbasis teknologi digital menjadi langkah strategis untuk
meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru di era modern ini.
Pelatihan
berbasis teknologi digital memberikan ruang bagi guru untuk menguasai
keterampilan baru yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Melalui pelatihan
ini, guru belajar menggunakan berbagai platform pembelajaran daring, aplikasi
interaktif, serta perangkat digital yang mendukung efektivitas kegiatan belajar
mengajar.
Menurut Wahyuni dan Rahayu (2023)
dalam Jurnal Pendidikan dan Teknologi, pelatihan digital terbukti
meningkatkan kemampuan pedagogik dan profesional guru, terutama dalam mendesain
pembelajaran berbasis teknologi yang lebih menarik dan partisipatif.
Selain
peningkatan keterampilan teknis, pelatihan digital juga menumbuhkan mindset
inovatif dan kolaboratif. Guru didorong untuk berbagi praktik baik melalui
komunitas digital, webinar, atau learning management system (LMS) yang
memperkuat jejaring profesional antarpendidik. Dengan demikian, pelatihan tidak
hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana
pembentukan ekosistem belajar berkelanjutan.
Walaupun
manfaatnya besar, pelaksanaan pelatihan digital bagi guru masih menghadapi
beberapa kendala. Keterbatasan infrastruktur teknologi, terutama di wilayah 3T
(terdepan, terluar, tertinggal), menjadi hambatan utama. Selain itu, tidak
semua guru memiliki kesiapan atau motivasi untuk belajar teknologi baru.
Sebagian masih menganggap pelatihan digital sebagai beban tambahan, bukan
sebagai kebutuhan profesional.
Penelitian
Sutrisno (2022) dalam Jurnal
Manajemen Pendidikan mengungkapkan bahwa efektivitas pelatihan digital
sangat dipengaruhi oleh dukungan kebijakan sekolah, motivasi intrinsik guru,
dan keberlanjutan program pelatihan itu sendiri. Tanpa perencanaan matang dan
pendampingan yang konsisten, pelatihan digital sering kali hanya menjadi
kegiatan seremonial tanpa dampak signifikan terhadap praktik pembelajaran di
kelas.
Agar
pelatihan berbasis teknologi digital dapat berjalan efektif, perlu ada sinergi
antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas guru. Pertama, pelatihan
harus dirancang berbasis kebutuhan nyata guru, bukan sekadar pengenalan
teknologi. Kedua, pendekatan blended learning (gabungan daring dan
luring) bisa menjadi solusi agar guru dapat berlatih sekaligus praktik secara
langsung. Ketiga, penting adanya sistem evaluasi berkelanjutan untuk mengukur
perubahan kompetensi pascapelatihan.
Selain
itu, penggunaan platform nasional seperti SimpelDiklat, Guru Belajar
dan Berbagi, serta Merdeka
Mengajar dapat dioptimalkan sebagai sarana pelatihan digital yang
inklusif. Pemerintah daerah dan UPT pendidikan juga memiliki peran strategis
dalam memfasilitasi pelatihan secara berkelanjutan dengan dukungan sarana TIK
yang memadai.
Peningkatan
kompetensi guru melalui pelatihan berbasis teknologi digital merupakan kebutuhan
mendesak di era transformasi pendidikan saat ini. Guru yang adaptif terhadap
teknologi akan mampu menciptakan pembelajaran yang relevan, inovatif, dan
berdaya saing global. Pelatihan digital bukan hanya tentang menguasai alat,
tetapi tentang membangun paradigma baru dalam mendidik generasi masa depan.
Dengan komitmen bersama, pelatihan berbasis teknologi digital dapat menjadi
tonggak lahirnya guru-guru unggul yang siap menghadapi tantangan zaman.