Peran Pekerja Sosial dalam Memberantas Buta Huruf Melalui Pendidikan Non Formal
Masalah buta huruf masih menjadi
kendala utama dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama di
wilayah pedesaan. Pekerja sosial memiliki peran penting dalam mengatasi
persoalan ini dengan memanfaatkan pendidikan non formal. Proses belajar
dilakukan dengan metode sederhana dan relevan dengan kehidupan sehari-hari agar
masyarakat mudah memahami materi. Pembelajaran dilakukan tidak hanya di ruang
kelas, tetapi juga di rumah warga atau balai desa.
Pendidikan keaksaraan tidak hanya
mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga bagaimana informasi dapat
dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup seperti berdagang, berkebun, atau mengelola
usaha. Pekerja sosial membantu peserta memahami manfaat belajar agar mereka
termotivasi mengikuti program. Pendekatan berbasis kebutuhan lokal menjadi
kunci keberhasilan pelaksanaan pendidikan non formal.
Banyak masyarakat dewasa merasa malu
untuk belajar kembali, sehingga pekerja sosial harus menggunakan pendekatan
humanis dan persuasif. Mereka membangun kepercayaan diri peserta dan
menciptakan suasana belajar yang nyaman. Tidak jarang, proses belajar dimulai
dengan kegiatan sosial atau diskusi santai agar peserta merasa diterima tanpa
tekanan.
Pendidikan non formal juga
membantu memutus rantai kemiskinan karena masyarakat dengan kemampuan baca
tulis lebih mudah mengakses informasi dan peluang kerja. Hal ini membuat
pekerja sosial tidak hanya bertindak sebagai pengajar, tetapi juga sebagai
motivator dan pendamping hidup. Proses pendampingan menjadi sangat penting
untuk mencegah peserta berhenti di tengah jalan.
Karena keberhasilannya, banyak program keaksaraan kini dikembangkan kembali dengan pendekatan kolaboratif antara pekerja sosial, pemerintah desa, dan organisasi pendidikan masyarakat. Dengan pendidikan non formal sebagai sarana perubahan, pemberantasan buta huruf menjadi lebih efektif dan berkelanjutan. Ini membuktikan bahwa pendidikan dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.