PERAN PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM MENINGKATKAN KEMANDIRIAN EKONOMI PEKERJA PEREMPUAN
Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, pendidikan memiliki peran strategis untuk membangun kemandirian individu dalam berbagai aspek kehidupan. Namun, pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk formal dengan kurikulum yang terstruktur dan ruang kelas yang kaku. Pendidikan nonformal, yang sering kali dianggap sebagai bentuk pendidikan alternatif, justru menjadi pintu masuk bagi banyak kelompok masyarakat untuk mendapatkan akses pembelajaran yang fleksibel dan relevan, terutama bagi perempuan pekerja.
Dewasa ini, semakin banyak perempuan yang menjalankan peran ganda: sebagai ibu rumah tangga di wilayah domestik dan sebagai pekerja di sektor publik atau informal. Tantangan peran ganda ini bukan hanya tentang pengelolaan waktu, tetapi juga menyangkut aspek psikologis, sosial, dan ekonomi. Pendidikan nonformal hadir tidak hanya untuk membekali mereka dengan keterampilan teknis, seperti memasak atau menjahit, tetapi lebih jauh sebagai sarana pemberdayaan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi.
Sebagai contoh nyata, banyak perempuan yang bekerja di sektor usaha kecil maupun usaha rumahan seperti jasa katering atau konveksi, kini memperoleh akses pendidikan kecakapan hidup (life skill) melalui pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh berbagai lembaga pendidikan luar sekolah atau organisasi masyarakat. Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan produksi, tetapi juga membekali mereka dengan pengetahuan tentang manajemen waktu, pemasaran digital, hingga pembukuan sederhana.
Lebih dari itu, pendidikan nonformal juga berperan dalam membangun kesadaran kritis. Banyak perempuan pekerja yang awalnya bergantung pada izin atau dukungan keluarga dan suami untuk bekerja, kini mulai memiliki pemahaman bahwa bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga untuk menunjukkan eksistensi dan kontribusi diri. Pendidikan membuka wawasan bahwa kemandirian ekonomi adalah hak dan salah satu indikator kesejahteraan dalam keluarga, tanpa harus meninggalkan peran mereka sebagai ibu atau istri.
Di sisi lain, dukungan lingkungan sekitar menjadi faktor penting. Tanpa perubahan pola pikir masyarakat tentang peran perempuan, pendidikan yang diterima sering kali belum cukup kuat untuk mengubah keadaan. Oleh karena itu, pendidikan nonformal harus terus hadir dalam konteks yang adaptif, kolaboratif, dan memberdayakan – tidak hanya mengajar, tetapi juga membuka ruang dialog, pendampingan, dan advokasi untuk perempuan pekerja.
Melalui perspektif ini, jelas bahwa pendidikan luar sekolah bukan sekadar pelengkap dari pendidikan formal, tetapi justru merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang inklusif, kreatif, dan berdaya. Ketika perempuan mampu mengakses pendidikan dan menjalankan peran produktif dengan dukungan yang memadai, maka bukan hanya dirinya yang terangkat, tetapi juga keluarga dan masyarakat di sekitarnya.