PLS Sebagai Penggerak Pemberdayaan Masyarakat
Selain berperan di bidang
pembelajaran, Pendidikan Luar Sekolah (PLS) memiliki fungsi strategis sebagai
penggerak pemberdayaan masyarakat. PLS tidak hanya berfokus pada proses
transfer pengetahuan, tetapi juga berupaya membangun kapasitas dan kemandirian
masyarakat melalui berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
Mahasiswa dan alumni PLS sering menjadi motor penggerak dalam pelaksanaan
program sosial seperti pelatihan wirausaha, pemberdayaan perempuan, pendidikan
kesetaraan, hingga literasi digital. Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah
untuk meningkatkan kompetensi individu agar mampu berdaya secara ekonomi,
sosial, maupun budaya, serta menciptakan masyarakat yang mandiri dan adaptif
terhadap perubahan zaman.
Dalam praktiknya,
mahasiswa PLS yang melaksanakan program pengabdian masyarakat di desa binaan
tidak hanya bertindak sebagai fasilitator pelatihan, tetapi juga berperan
sebagai pendamping masyarakat dalam membangun sistem belajar yang
berkelanjutan. Melalui kegiatan seperti pendirian rumah belajar, taman baca
masyarakat (TBM), dan kelompok belajar mandiri, mahasiswa membantu menciptakan
ruang bagi masyarakat untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Kegiatan ini
tidak hanya meningkatkan keterampilan, tetapi juga menumbuhkan budaya belajar
sepanjang hayat yang partisipatif dan kolaboratif, di mana masyarakat menjadi
subjek utama dalam proses belajar, bukan sekadar penerima manfaat.
Lebih dari itu,
keterlibatan PLS dalam pemberdayaan masyarakat menciptakan ekosistem pendidikan
nonformal yang inklusif dan berkelanjutan. Program-program yang dijalankan
tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, melainkan juga membangun
kesadaran kritis, rasa tanggung jawab sosial, dan semangat gotong royong.
Dengan pendekatan partisipatif tersebut, PLS berperan penting dalam memperkuat
jaringan sosial, menumbuhkan solidaritas antarwarga, serta menyiapkan
masyarakat agar mampu mengelola potensi lokal secara mandiri. Melalui
kiprahnya, PLS membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar proses akademik,
tetapi juga gerakan sosial yang menumbuhkan kemandirian, memperkuat karakter,
dan mendorong terwujudnya pembangunan berbasis masyarakat.