Polusi Udara, ISPA, dan Peran Pendidikan Nonformal dalam Meningkatkan Kesadaran Kesehatan Masyarakat
Dalam beberapa tahun terakhir, polusi udara menjadi salah satu persoalan
kesehatan paling serius di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan dan kawasan
industri. Indeks Kualitas Udara (AQI) di sejumlah kota besar sering kali berada
pada kategori tidak sehat, terutama saat terjadi kemarau panjang, kebakaran
hutan, atau peningkatan aktivitas transportasi. Kondisi ini berdampak langsung
pada meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), baik pada
anak-anak maupun orang dewasa.
Meskipun pemerintah terus melakukan intervensi berbasis regulasi, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahaya polusi udara jangka pendek maupun jangka panjang. Literasi publik tentang cara melindungi diri, mengenali gejala ISPA, hingga langkah pencegahan masih tergolong rendah. Dalam konteks inilah pendidikan luar sekolah (pendidikan nonformal berbasis masyarakat) menjadi aktor penting untuk membantu mengisi celah pengetahuan kesehatan publik.
Polusi udara bukan hanya masalah lingkungan, melainkan masalah kesehatan
yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat secara langsung. Selama edukasi
hanya berputar dalam lingkaran formal dan pemerintah, masyarakat akan tetap
pasif dan rentan. Pendidikan nonformal hadir sebagai ruang vital yang
menjembatani ilmu kesehatan dan perilaku warga.
Peningkatan kasus ISPA dapat ditekan bukan hanya melalui obat dan fasilitas
medis, tetapi melalui pengetahuan dan kebiasaan hidup sehat yang dipahami
masyarakat. Jika masyarakat mampu membaca kualitas udara, mengenali gejala, dan
melakukan pencegahan mandiri, maka pendidikan luar sekolah telah menjalankan
fungsinya sebagai pelindung sosial di era perubahan cuaca dan lingkungan.