Kasus tantrum pada anak usia dini semakin sering kita ditemui di berbagai lingkungan, mulai dari rumah, pusat perbelanjaan, hingga sekolah. Psikolog anak menilai bahwa pola komunikasi orangtua memiliki peran penting dalam meredam emosi anak, terutama melalui pendekatan komunikasi empatik.
Psikolog perkembangan anak, Dr. Lira Pradipta, menjelaskan bahwa tantrum merupakan bagian dari perkembangan normal anak, khususnya pada rentang usia 2–5 tahun. Namun, cara orangtua merespons ledakan emosi tersebut sangat menentukan apakah perilaku itu akan mereda atau justru berulang.
“Komunikasi empatik membantu anak merasa dipahami. Ketika anak meledak, yang mereka butuhkan bukan marah balik, melainkan pengakuan atas perasaannya,” ujar Dr. Lira dalam sebuah seminar parenting di Jakarta, Sabtu (11/1). Ia menekankan bahwa mengabaikan atau memarahi anak saat tantrum justru dapat memperparah kondisi emosinya.
Menurutnya, komunikasi empatik bisa dilakukan melalui tiga langkah sederhana:
-
Mengakui perasaan anak, misalnya dengan mengatakan “Mama tahu kamu sedang kecewa.”
-
Menurunkan nada suara dan bahasa tubuh, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat.
-
Memberi pilihan yang jelas, sehingga anak merasa tetap memiliki kendali.
“Orangtua perlu ingat bahwa otak anak belum matang untuk mengelola emosi kompleks. Mereka butuh bimbingan, bukan hukuman,” tambahnya.
Dr. Lira juga mengingatkan bahwa pemicu tantrum bisa berasal dari faktor sederhana seperti rasa lapar, kelelahan, atau stimulasi berlebihan. Dengan mengenali pola ini, orangtua diharapkan dapat mencegah tantrum sebelum terjadi.
Sementara itu, sejumlah orangtua yang mengikuti seminar mengaku pendekatan empatik cukup efektif. Rani (32), salah satu peserta, mengatakan bahwa putrinya kini lebih mudah menenangkan diri. “Dulu saya sering terpancing emosi. Setelah mencoba teknik empati, ternyata anak lebih cepat tenang,” ujarnya.
Para psikolog berharap edukasi mengenai komunikasi empatik ini dapat lebih luas diterapkan, baik di rumah maupun lingkungan sekolah. Pendekatan ini dinilai tidak hanya membantu anak untuk meredakan tantrum, tetapi jugadapat membangun fondasi perkembangan emosional yang lebih sehat di masa depan.