Relevansi Soal TKA dengan Kebutuhan Kompetensi Abad 21
Tes Kompetensi
Akademik (TKA) merupakan salah satu instrumen utama dalam sistem seleksi masuk
perguruan tinggi yang dirancang untuk mengukur kemampuan dasar akademik calon
mahasiswa. Di tengah perubahan lanskap pendidikan global yang menuntut
kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, kreatif, dan komunikatif, muncul
pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana butir-butir soal dalam TKA
merepresentasikan kompetensi abad
ke-21. Kajian terhadap relevansi TKA dengan kebutuhan
kompetensi tersebut menjadi penting, mengingat pendidikan tinggi diharapkan
tidak hanya menyeleksi individu yang cerdas secara kognitif, tetapi juga yang
mampu beradaptasi dan berinovasi di era disrupsi.
Kompetensi abad
ke-21 menekankan keterampilan yang bersifat holistik dan transdisipliner, meliputi kemampuan
berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah kompleks (problem
solving), kolaborasi (collaboration), komunikasi (communication), dan
kreativitas (creativity), yang sering disebut dengan istilah 4C.
Selain itu, keterampilan literasi digital, literasi data, dan literasi manusia
menjadi bagian penting dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan
teknologi. Pendidikan tinggi dituntut untuk menyiapkan mahasiswa dengan
kemampuan tersebut agar mampu berkontribusi dalam masyarakat berbasis
pengetahuan (knowledge-based society).
Dalam konteks ini,
TKA sebagai bagian dari sistem seleksi nasional memiliki tanggung jawab untuk
mengidentifikasi calon mahasiswa yang tidak hanya menguasai konsep akademik,
tetapi juga menunjukkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order
Thinking Skills atau HOTS). Dengan demikian, relevansi TKA terhadap
kompetensi abad ke-21 dapat diukur melalui sejauh mana soal-soalnya mampu
mendorong proses berpikir analitis, reflektif, dan kreatif. Secara empiris,
sebagian besar soal TKA dirancang untuk mengukur kemampuan penalaran, bukan
sekadar hafalan atau reproduksi informasi. Format soal yang menuntut analisis
dan sintesis menunjukkan adanya upaya untuk mengintegrasikan elemen critical
thinking dan problem solving. Misalnya, dalam bidang Matematika
dan Sains, peserta tidak hanya diminta menghitung, tetapi juga memahami
konteks, menginterpretasi data, dan menarik kesimpulan berdasarkan argumen
logis.
Namun demikian,
beberapa kajian menunjukkan bahwa masih terdapat proporsi soal yang cenderung
berorientasi pada penguasaan konsep dasar (lower order thinking skills),
bukan penerapan atau inovasi konsep dalam konteks baru. Hal ini menunjukkan
perlunya pergeseran paradigma dalam penyusunan butir soal TKA — dari asesmen
berbasis hasil (outcome-based assessment) menuju asesmen berbasis
proses berpikir (process-based assessment). Dengan mengadopsi
pendekatan HOTS secara konsisten, TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat
seleksi, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong perubahan paradigma
pembelajaran di tingkat sekolah menengah. Siswa akan terdorong untuk memahami
konsep secara mendalam, berpikir kritis, dan menerapkan pengetahuan dalam
situasi yang kompleks dan autentik.
Relevansi TKA
terhadap kompetensi abad ke-21 tidak hanya ditentukan oleh konten soal, tetapi
juga oleh pendekatan asesmen
yang digunakan. Desain asesmen modern harus mampu menilai aspek kognitif,
afektif, dan metakognitif secara seimbang. Dalam konteks ini, TKA dapat
dikembangkan untuk mencakup:
1.
Soal berbasis konteks nyata (contextual-based
problem) yang menuntut penerapan konsep lintas bidang;
2.
Soal dengan format terbuka (open-ended
question) untuk menilai orisinalitas berpikir dan kreativitas;
3.
Pemanfaatan teknologi digital dalam proses ujian
untuk menilai literasi informasi dan kemampuan adaptif peserta.
Selain itu,
penyusunan soal perlu memperhatikan kesetaraan akses dan keadilan, agar tidak
menimbulkan bias terhadap peserta dengan latar belakang sosial-ekonomi atau
pendidikan yang berbeda.
Upaya memastikan
relevansi TKA dengan kompetensi abad ke-21 memiliki implikasi strategis
terhadap kebijakan pendidikan nasional. Kementerian Pendidikan dan lembaga
penyelenggara ujian perlu melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap struktur
dan indikator penilaian dalam TKA. Guru di tingkat sekolah menengah juga harus
dilibatkan dalam proses penyelarasan agar pembelajaran di kelas dapat menjadi
fondasi bagi kesiapan siswa menghadapi asesmen berbasis kompetensi. Selain itu,
lembaga pendidikan tinggi dapat berperan dalam memberikan masukan terhadap
model TKA yang ideal, dengan menyesuaikan kebutuhan dunia akademik dan dunia
kerja. Dengan demikian, sistem seleksi nasional akan semakin relevan dengan
tuntutan zaman dan sekaligus memperkuat fungsi pendidikan sebagai sarana
pengembangan sumber daya manusia unggul.
Relevansi soal TKA
dengan kebutuhan kompetensi abad ke-21 terletak pada kemampuannya mengukur
lebih dari sekadar penguasaan pengetahuan dasar. TKA harus menjadi alat seleksi
yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan modern — menilai cara berpikir, bukan
sekadar hasil berpikir. Dengan memperkuat integrasi keterampilan berpikir
kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif dalam struktur soal, TKA dapat
berperan strategis dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif terhadap
perubahan dan kompetitif di tingkat global.