Remaja dan Tidur Terganggu: Bagaimana Lingkungan dan Gaya Hidup Berperan?
Tidur adalah salah satu kebutuhan mendasar bagi remaja, masa ketika tubuh dan otak sedang berkembang dengan sangat cepat. Namun, semakin banyak remaja yang melaporkan tidur tidak nyenyak, sulit tidur, atau mudah terbangun di tengah malam. Kondisi ini bukan hanya soal kebiasaan, tetapi merupakan kombinasi dari lingkungan yang berubah dan gaya hidup yang semakin menuntut.
Lingkungan tempat remaja tumbuh kini jauh berbeda dari satu dekade lalu. Suasana rumah yang ramai, paparan kebisingan dari luar, hingga cahaya buatan dari lampu jalan atau layar elektronik dapat mengganggu ritme sirkadian—jam biologis yang mengatur kapan tubuh harus merasa kantuk. Banyak remaja hidup di ruang yang tidak mendukung tidur berkualitas: kamar yang terang, panas, atau dekat dengan aktivitas keluarga yang masih berjalan hingga larut malam.
Selain faktor fisik, lingkungan digital juga memiliki pengaruh besar. Media sosial, notifikasi aplikasi, dan keterikatan emosional dengan aktivitas online membuat remaja sulit “mematikan dunia” menjelang tidur. Cahaya biru dari perangkat seperti ponsel dan laptop menurunkan produksi melatonin, hormon yang memicu kantuk, sehingga otak tetap aktif meski tubuh ingin beristirahat.
Gaya hidup modern turut memperburuk masalah ini. Jadwal sekolah yang padat, tuntutan akademik yang tinggi, dan kegiatan ekstrakurikuler yang tidak jarang berlangsung hingga sore membuat remaja kekurangan waktu istirahat. Di sisi lain, konsumsi minuman berkafein seperti kopi, es teh, atau minuman energi telah menjadi tren yang semakin umum di kalangan pelajar, sehingga memperpanjang waktu terjaga mereka di malam hari.
Tidak hanya itu, kebiasaan begadang untuk menyelesaikan tugas atau sekadar menonton konten digital turut memperkuat pola tidur yang tidak sehat. Ketika dilakukan berulang, tubuh kehilangan pola tidur alaminya. Remaja pun mulai merasakan efek samping seperti sulit berkonsentrasi, mudah lelah, perubahan suasana hati, hingga performa belajar yang menurun.
Lingkungan sosial juga berperan penting. Tekanan dari teman sebaya, ekspektasi keluarga, dan kebutuhan untuk terus terhubung secara online dapat menciptakan stres tersendiri. Stres inilah yang kemudian memperburuk kualitas tidur karena otak berada dalam mode waspada, bukan mode istirahat.
Meski tantangannya besar, ada berbagai cara untuk memperbaiki tidur remaja. Menciptakan suasana kamar yang nyaman, mengurangi penggunaan perangkat elektronik satu jam sebelum tidur, serta menjaga rutinitas tidur dan bangun secara konsisten adalah langkah awal yang efektif. Orang tua dan pendidik juga perlu memahami bahwa kebutuhan tidur remaja merupakan bagian penting dari kesehatan mereka, bukan sekadar masalah disiplin.
Pada akhirnya, tidur remaja tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang mereka lakukan, tetapi juga oleh dunia tempat mereka hidup. Dengan memperbaiki lingkungan dan mengelola gaya hidup, remaja dapat kembali memperoleh tidur berkualitas yang menjadi fondasi kesejahteraan fisik maupun mental mereka.