Remaja, Seksualitas, dan Pendidikan: Mengapa Tabu Justru Memperburuk Situasi?
Topik tentang
seksualitas masih menjadi “wilayah sunyi” dalam percakapan antara orang tua,
guru, dan remaja di Indonesia. Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa
membicarakan seksualitas adalah sesuatu yang memalukan, tidak sopan, atau
bahkan berpotensi menjerumuskan anak. Akibatnya, remaja tumbuh dengan rasa
penasaran yang besar, tetapi tidak memiliki sumber informasi yang benar.
Dalam situasi
seperti itu, media sosial dan internet justru mengambil alih peran sebagai
sumber utama pengetahuan remaja tentang seks. Konten yang beredar di dunia maya
sering kali bersifat provokatif, dangkal, bahkan salah kaprah. Alih-alih
memahami seksualitas sebagai bagian dari identitas dan kesehatan diri, remaja
justru memandangnya dari sisi hiburan dan sensasi.
Ketiadaan
ruang dialog terbuka ini telah menimbulkan dampak yang nyata. Kasus pergaulan
bebas, kehamilan di luar nikah, hingga kekerasan seksual di kalangan pelajar
semakin sering terdengar. Bukan karena remaja ingin “nakal”, tetapi karena
mereka tidak tahu harus bertanya kepada siapa dan bagaimana cara
memahami tubuh serta perasaannya dengan benar.
Seksualitas
sejatinya bukan hanya urusan fisik atau hubungan antara laki-laki dan
perempuan, melainkan juga menyangkut aspek psikologis, moral, emosional, dan
sosial. Dengan kata lain, memahami seksualitas adalah bagian penting dari
proses pembentukan karakter dan tanggung jawab diri.
Namun, sistem
pendidikan kita cenderung memisahkan urusan moral dan urusan biologis. Topik
seksualitas hanya disinggung sekilas dalam pelajaran biologi tanpa menyinggung
nilai-nilai etika, empati, atau tanggung jawab sosial. Hal inilah yang membuat
remaja hanya memahami aspek biologisnya, bukan makna moral dan sosial di
baliknya.
Salah satu
hambatan terbesar dalam penerapan pendidikan seks di Indonesia adalah ketakutan
orang tua dan pendidik. Banyak yang beranggapan bahwa berbicara
tentang seks justru akan membangkitkan rasa penasaran dan dorongan untuk
mencoba. Padahal, rasa ingin tahu adalah hal alami yang memang tumbuh seiring
perkembangan usia remaja. Masalahnya bukan pada rasa ingin tahu itu sendiri,
melainkan pada cara mereka mencari jawabannya. Jika orang
dewasa tidak memberikan ruang aman untuk bertanya, remaja akan mencari
informasi dari teman sebaya atau internet yang belum tentu dapat dipercaya. Akibatnya,
muncul banyak kesalahpahaman.
Untuk
mengubah keadaan ini, dibutuhkan kerja sama yang kuat antara keluarga, sekolah,
dan masyarakat. Orang tua memiliki peran utama sebagai pendidik pertama
dan terdekat bagi anak. Sayangnya, banyak orang tua masih canggung
atau bahkan takut berbicara tentang seksualitas. Padahal, anak-anak lebih
membutuhkan bimbingan dari orang terdekat mereka daripada dari sumber lain yang
tidak dikenal.
Langkah awal
yang bisa dilakukan adalah membuka komunikasi dua arah. Orang tua perlu belajar
untuk mendengar sebelum menasihati, agar anak merasa aman dan
tidak dihakimi. Percakapan tentang seksualitas tidak harus dilakukan dengan
cara formal atau menakutkan, melainkan bisa melalui situasi santai — misalnya
saat menonton film atau membahas berita. Dengan begitu, anak akan melihat bahwa
membicarakan hal ini bukan sesuatu yang memalukan. Sementara itu, sekolah perlu
memainkan peran aktif dengan mengintegrasikan pendidikan seks dalam
kurikulum. Materi ini tidak hanya bisa masuk dalam pelajaran biologi,
tetapi juga dalam pendidikan karakter, agama, dan bimbingan konseling. Guru dan
konselor harus dibekali kemampuan berkomunikasi tentang isu sensitif ini dengan
bahasa yang sopan, ilmiah, dan empatik.
Dengan
sinergi antara rumah dan sekolah, remaja akan memiliki bekal pengetahuan yang
cukup. Melalui pendekatan yang benar, pendidikan seksualitas justru menjadi
sarana untuk menanamkan nilai-nilai seperti menghormati tubuh sendiri,
menghargai tubuh orang lain, menjaga privasi, serta memahami konsekuensi dari
setiap tindakan.
Sudah saatnya
kita berhenti menganggap pembicaraan tentang seksualitas sebagai sesuatu yang
berbahaya. Justru dengan membuka ruang dialog yang sehat, kita memberi remaja
perlindungan terbaik: pengetahuan, pemahaman, dan kepercayaan diri
untuk menjaga diri. Masyarakat, keluarga, dan sekolah perlu membangun
budaya komunikasi yang terbuka dan penuh empati. Dengan begitu, generasi muda
kita akan tumbuh dengan pemahaman yang seimbang antara pengetahuan, moralitas,
dan tanggung jawab sosial. Jika tabu terus dipertahankan, remaja akan belajar
dari sumber yang salah. Namun jika kita berani berbicara, kita sedang
menanamkan nilai-nilai yang akan melindungi mereka sepanjang hidup.