Self-Expression is Power: Mengapa Gen Z Tak Takut Tampil ‘Beda’ di Era Digital
Dalam riuhnya dunia digital yang membanjiri perhatian generasi muda dengan arus tren cepat,
lahirlah sebuah orientasi baru terhadap penampilan: bukan lagi tentang “sesuai dengan norma”
melainkan “menjadi diri sendiri.” Bagi generasi Generasi Z Indonesia, berpakaian dan memilih
gaya bukan sebatas kebutuhan estetika, melainkan tindakan nyata untuk mengungkapkan siapa
mereka, apa yang mereka yakini, dan bagaimana mereka ingin dipandang. Penelitian lokal
bahkan menegaskan bahwa pilihan busana Gen Z kerap terkait dengan identitas dan ekspresi
diri. Misalnya, dalam studi “Menjembatani Gaya dan Kepercayaan: Perilaku Berpakaian Gen Z
dalam Perspektif Psikologi dan Agama Islam” disebutkan bahwa individu Gen Z “sering kali
mengalami dilema antara mengekspresikan identitas diri melalui gaya berpakaian modern dan
menjalankan norma agama”.
Di media sosial, Gen Z tidak sekadar memilih baju mereka memilih narasi. Sebuah artikel
menemukan bahwa “Gen Z menjadikan fashion sebagai medium ekspresi diri, bukan sekadar
mengikuti tren atau brand terkenal”. Dengan demikian, kaus oversized, celana baggy, rok
asimetris, rambut warna-ekstrem, aksesori bold semua itu menjadi alat komunikasi visual: ini
saya, unik, dan tak takut berbeda. Studi lain menegaskan bahwa strategi ekspresi diri melalui
media digital sangat nyata: “Gen Z actively utilizes social media … as a medium to construct,
negotiate, and display their personal and collective identities.”
Mengapa Gen Z begitu berani tampil beda? Ada beberapa faktor yang saling terkait. Pertama,
mereka tumbuh dalam era digital yang memungkinkan keterpaparan cepat terhadap tren
global, mereka melihat gaya dari berbagai belahan dunia dan mengambil apa yang resonan
dengan identitas mereka sendiri. Kedua, generasi ini menghendaki kebebasan dan keaslian
dalam memilih bagaimana mereka tampil tidak sekadar konsumsi pasif. Penelitian “Preferensi
Konsumen Gen Z terhadap Tren Customization dalam Produk Pakaian” menunjukkan bahwa
sekitar 60 % Gen Z tertarik pada produk fashion yang bisa dikustomisasi dengan alasan utama
“untuk mengekspresikan individualitas dan memperkuat keterikatan emosional dengan brand”.
Di Indonesia, keberanian ini terwujud dalam pilihan gaya yang tidak konvensional: remaja
perempuan memakai sneakers laki-laki dan jaket denim besar, remaja laki-laki memakai rok
atau aksesori subtal gender-neutral, atau pelajar yang memilih thrift store sebagai sarana
mendapatkan busana unik dan sustainable. Dalam realitas tersebut, gaya berpakaian bukan
hanya soal mengikuti citra “keren” tetapi soal menyatakan sikap: terhadap tradisi, terhadap
norma, atau terhadap ekspektasi sosial yang ingin ditepis.
Meski demikian, keberanian untuk tampil beda bukan tanpa tantangan. Gen Z juga menavigasi
tekanan sosial digital—perbandingan dengan peers, algoritma media sosial yang memfavoritkan
“perfect look”, hingga ekspektasi publik. Sebuah studi menemukan bahwa pengaruh media
sosial terhadap ekspresi diri fashion Gen Z melibatkan dinamika antara kebebasan dan tekanan
visual: “meskipun Instagram memberikan ruang untuk kebebasan berekspresi, terdapat
tantangan terkait tekanan sosial dan standar estetika yang dapat mempengaruhi persepsi diri.”
Pada akhirnya, gaya pakaian Gen Z bisa dilihat sebagai bentuk pemberdayaan pribadi sekaligus
kolektif. Mereka mendefinisikan ulang norma berpakaian, merangkul keberagaman, dan
mengubah fashion menjadi sarana pencitraan diri yang autentik. Ketika seorang remaja memilih
topi bucket vintage, jaket oversized, atau kaus bermotif loud dan memadukannya dengantenang, mereka sedang berkata: “Saya hadir. Saya berbeda. Dan itu bukan masalah.” Dalam
dunia yang semakin digital dan terhubung, kekuatan ekspresi diri itu nyata karena bagi Gen Z,
tampil beda bukan lagi kekurangan, tetapi keunggulan.