Self-Healing di Kalangan Mahasiswa: Antara Tren dan Kebutuhan Nyata
Belakangan ini, istilah self-healing menjadi sangat populer di kalangan mahasiswa. Unggahan tentang jalan-jalan sendirian, menulis jurnal, atau menikmati waktu di kafe sambil refleksi diri kerap diidentikkan dengan upaya menyembuhkan diri dari tekanan hidup. Namun di balik tren itu, tersimpan pesan yang lebih dalam: mahasiswa kini semakin sadar akan pentingnya kesehatan mental.
Kehidupan akademik sering kali penuh tekanan tugas menumpuk, jadwal padat, tuntutan nilai tinggi, hingga persoalan pribadi yang tak kalah berat. Tidak heran jika banyak mahasiswa merasa lelah, kehilangan motivasi, bahkan mengalami gejala stres dan kecemasan. Menurut riset yang dimuat dalam Journal of Mental Health Education (2022), hampir 60% mahasiswa di Indonesia pernah mengalami stres akademik dalam tingkat sedang hingga berat.
Self-healing kemudian menjadi bentuk perlawanan terhadap tekanan itu. Ia bukan sekadar tren media sosial, tetapi juga refleksi kebutuhan manusia akan keseimbangan batin. Melalui self-healing, mahasiswa belajar mengenali emosi, menerima diri, dan memberi jeda di tengah rutinitas padat. Aktivitas sederhana seperti menulis jurnal syukur, berolahraga ringan, atau berbagi cerita dengan teman dekat bisa menjadi bentuk nyata pemulihan mental.
Namun, yang perlu diingat, self-healing bukanlah solusi instan. Ia harus dibarengi dengan kesadaran diri dan dukungan lingkungan yang positif. Kampus dan lembaga pendidikan juga memiliki peran penting dalam menciptakan atmosfer yang sehat, menyediakan layanan konseling, dan menumbuhkan empati di antara civitas akademika.
Tren ini menunjukkan perubahan arah budaya mahasiswa: dari mengejar kesempurnaan menuju penerimaan diri. Sebuah langkah kecil yang sangat berarti, karena sebelum bisa berprestasi, seseorang perlu terlebih dahulu berdamai dengan dirinya sendiri.