Di era modern yang serba cepat, tekanan hidup datang dari berbagai arah—pekerjaan, pendidikan, media sosial, hingga tuntutan sosial yang semakin tinggi. Banyak orang merasa harus selalu produktif, selalu benar, dan selalu mampu memenuhi standar yang ditetapkan lingkungan. Tekanan semacam ini membuat hidup terasa berat, sehingga kemampuan bertahan dan mengelola diri menjadi keterampilan yang sangat penting untuk dimiliki.
Tekanan terbesar di zaman modern sering kali muncul dari ekspektasi. Kita hidup di tengah budaya pencapaian, di mana kesuksesan diukur melalui prestasi, kecepatan, dan hasil konkret. Sayangnya, standar ini tidak selalu realistis. Ketika kita terlalu berfokus pada ekspektasi eksternal, kita cenderung mengabaikan kesejahteraan diri sendiri. Di sinilah seni bertahan menjadi penting—mengenali batas, menerima kekurangan, dan memahami bahwa perjalanan setiap orang berbeda.
Media sosial juga menjadi faktor yang memperbesar tekanan. Hampir setiap hari kita disajikan potret kehidupan orang lain yang terlihat sempurna: karier yang gemilang, gaya hidup mewah, dan pencapaian tanpa batas. Perbandingan inilah yang sering kali menciptakan rasa tidak cukup baik, padahal apa yang terlihat hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Seni bertahan berarti mampu melihat media sosial secara kritis, memilah mana yang perlu diambil dan mana yang hanya menjadi konsumsi visual semata.
Di tengah tekanan tersebut, penting bagi kita untuk memiliki ruang jeda. Mengatur waktu untuk beristirahat, melakukan hobi, atau sekadar mengambil napas panjang dapat menjadi cara efektif menjaga keseimbangan mental. Zaman modern mungkin menuntut kecepatan, tetapi tubuh dan pikiran tetap membutuhkan ketenangan. Memberi diri waktu untuk tidak melakukan apa pun bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari perawatan diri yang penting.
Selain itu, membangun rutinitas sehat dapat menjadi cara lain untuk bertahan. Hal-hal sederhana seperti tidur cukup, mengurangi paparan perangkat digital, serta melakukan aktivitas fisik dapat membantu pikiran tetap stabil. Konsistensi kecil dalam kehidupan sehari-hari dapat menciptakan pondasi kuat yang menjaga kita tetap tenang saat menghadapi tekanan besar. Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat adalah bentuk seni yang harus dipelajari perlahan.
Dalam menghadapi tekanan, dukungan sosial juga memegang peran besar. Berbicara dengan teman, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat membantu meredakan beban mental. Zaman modern mungkin membuat manusia terlihat semakin individualis, tetapi koneksi emosional justru menjadi kebutuhan utama. Tidak ada salahnya meminta bantuan, karena bertahan bukan berarti harus mampu menghadapinya sendirian.
Pada akhirnya, seni bertahan di tengah tekanan zaman modern bukan tentang menjadi yang paling kuat atau paling produktif. Ini adalah tentang memahami diri sendiri, menciptakan keseimbangan, dan memilih apa yang benar-benar penting dalam hidup. Ketika kita mampu mendengarkan diri sendiri dan memelihara kesehatan mental, kita dapat menghadapi dunia dengan lebih bijak dan tenang. Dengan demikian, kita tidak hanya sekadar bertahan, tetapi juga tumbuh di tengah segala tantangan.