WEBINAR PLS : MENCAPAI KESETARAAN GENDER DAN INTEGRITAS PEREMPUAN

Hubungan antara perempuan dan laki-laki harus dibangun diatas prinsip keadilan dan kesetaraan. Berbagai problem tentang kesetaraan gender banyak sekali yang menyudutkan kaum perempuan, di antaranya seperti cap atau label yang diperuntukkan kaum perempuan sehingga membuat perempuan tidak bebas atau terbelenggu dalam mewujudkan impian dan merealisasikan tujuannya.
Berkaitan dengan masalah ketidaksetaraan yang mayoritas dialami oleh kaum perempuan, Jurusan Pendidkan Luar Sekolah mengadakan acara webinar yang bertajuk “Mencapai Kesetaraan Gender dan Integritas Perempuan” pada Sabtu lalu (21/08). Dengan narasumber yang berpengalaman yaitu, Sjafiatul Mardliyah, S.Sos.,M.A. selaku Dosen PLS UNESA dan Kepala Pusat Studi Gender dan Anak LPPM UNESA dan juga Irma Khairaini S.Sos selaku Ketua Umum Gender Talk dan Anggota Puan Menulis membuat acara ini akan dikelupas secara tuntas. Acara tersebut telah diadakan dengan lancar dan penuh antusias dari sebanyak 200 peserta. Tidak dapat dipungkiri, topik yang dibawakan pada webinar kali ini memang sangat menarik, karena membahas isu penting terkait kesetaraan.
Kesetaraan gender ini diperlukan untuk menampik stigma-stigma yang bermunculan terhadap kaum perempuan, di antaranya seperti kodrat perempuan yang seharusnya tinggal di rumah, perempuan harus bisa masak, perempuan tidak perlu bekerja, dan lain-lain. Stigma tersebut merupakan akar dari masalah diskriminasi dan bias gender. Seperti halnya kasus kekerasan seksual yang tidak kunjung menurun sebab tidak adanya payung hukum yang dapat melindungi korban. Selama budaya patriarki masih dinormalisasi, maka kaum perempuan belum bisa merasakan keadilan yang seharusnya didapatkan.
Dalam webinar ini, Irma, selaku pemateri juga menuturkan “Untuk mencapai kesetaraan gender, perlu peran aktif dari perempuan untuk terlibat di segala aspek kehidupan, karena hanya perempuanlah yang memahami perasaan dan dirinya sendiri.” Harapannya, para perempuan mampu mewujudkan impian mereka tanpa mengkhawatirkan permasalahan gender dan budaya patriarki. (Cin/Ay)