PNF Unesa Libatkan Juri dari Perancis dalam English Debate Competition 2026
Jumat, 16 Oktober 2026, Himpunan Mahasiswa Prodi Pendidikan Non-Formal dan Komunitas KREASI dari Prodi yang sama mengadakan lomba NUDC (National University Debating Championship) dan KDMI (Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia) tingkat prodi di area Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA. Kompetisi ini diikuti oleh seluruh mahasiswa Prodi PNF angkatan 2025 dan 2026 dengan antusias.
Kompetisi ini dimaksudkan untuk melatih dan membangun pemikiran kritis para mahasiswa di era disruptif dan penuh tantangan sejalan dengan perkembangan digital yang masif, mahasiswa dituntut tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga memiliki kecakapan untuk mengevaluasi informasi, membangun argumentasi berbasis bukti, dan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Pelaksanaan kompetisi ini juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kepercayaan diri, kemampuan bekerja sama, serta sikap terbuka terhadap perbedaan pandangan. Melalui format debat NUDC dan KDMI, peserta memperoleh kesempatan untuk menguji gagasan, mempertahankan argumen, dan merespons pendapat lawan secara terstruktur.
Para dosen juga dilibatkan dalam agenda ini, yaitu: M Fahmi Zakariyah, M.Pd. selaku dosen pembina tim KREASI sekaligus juri lomba KDMI; Monica Widyaswari, M.Pd. selaku juri KDMI; dan juga Desika Putri Mardiani, M.Pd. selaku dosen pembina tim KREASI dan juri NUDC. Selain para dosen, Hasnah, volunteer pendidikan dari Perancis, juga turut dilibatkan dalam agenda ini, yaitu menjadi juri pada lomba NUDC. Keterlibatan volunteer internasional tersebut memberikan dimensi lintas budaya dalam kegiatan akademik mahasiswa, sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih luas dalam lingkungan pembelajaran yang berorientasi global.
Para juri bertugas menilai kemampuan peserta dalam membangun argumentasi, menyampaikan gagasan secara sistematis, menggunakan bukti yang relevan, serta memberikan respons terhadap argumen lawan. Evaluasi ini diharapkan dapat membantu mahasiswa mengenali kekuatan dan aspek yang perlu ditingkatkan dalam kemampuan berdebat. Keterlibatan volunteer internasional tersebut memberikan dimensi lintas budaya dalam kegiatan akademik mahasiswa, sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih luas dalam lingkungan pembelajaran yang berorientasi global.
Bagi mahasiswa, kompetisi debat tingkat program studi ini diharapkan menjadi pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran di kelas. Peserta tidak hanya dituntut memahami isu yang diperdebatkan, tetapi juga mempersiapkan argumen, menyusun strategi, dan menyampaikan pendapat di hadapan juri serta peserta lainnya. Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar bahwa kemampuan berdebat bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan juga mengembangkan cara berpikir yang terstruktur, menghargai perbedaan perspektif, dan mempertanggungjawabkan pendapat berdasarkan alasan yang rasional.
Kehadiran para juri menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa kompetisi tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pembelajaran peserta. Melalui penilaian dan evaluasi, mahasiswa diharapkan memahami pentingnya menyampaikan argumen yang relevan, logis, sistematis, dan didukung oleh informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Para juri menekankan bahwa kompetensi debat perlu dibangun melalui latihan yang konsisten, penguasaan isu, kemampuan berpikir kritis, serta keterampilan mendengarkan dan menanggapi argumen lawan. Mahasiswa juga perlu membedakan opini pribadi dari argumentasi yang didukung bukti, terutama ketika membahas isu-isu kontemporer yang berkembang di era digital.
Penyelenggaraan kompetisi ini merupakan bentuk inisiatif mahasiswa untuk menghadirkan kegiatan akademik yang partisipatif dan relevan dengan kebutuhan pengembangan kompetensi mahasiswa. Kolaborasi antara HMP PNF, Komunitas KREASI, dosen, dan volunteer pendidikan menunjukkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan potensi mahasiswa. Panitia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda pengembangan kapasitas mahasiswa yang berkelanjutan. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan debat diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk lebih aktif mengikuti forum akademik, membangun keberanian menyampaikan gagasan, dan mempersiapkan diri menghadapi kompetisi debat pada tingkat universitas maupun nasional.
Kompetisi debat NUDC dan KDMI tingkat Program Studi Pendidikan Non-Formal ini menjadi salah satu bentuk penguatan budaya akademik di lingkungan FIP UNESA. Kegiatan tersebut menghadirkan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan argumentasi, komunikasi, kolaborasi, dan pemikiran kritis yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan pendidikan dan masyarakat yang terus berubah.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan peningkatan kualitas pelatihan, pendampingan, dan evaluasi. Dengan demikian, kompetisi debat tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa untuk membentuk pribadi yang kritis, percaya diri, terbuka terhadap perbedaan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.